102 sekolah di Jayapura, Papua lakukan peningkatan mutu

papua
Juni Susanti (tengah) dan anggota tim Pendamping SPMI dari LPMP Papua Bersama guru saat melakukan pendampingan di SMA YPPK Teruna Bakti Jayapura, Kamis (12/11/2020). --Dok. Pribadi.

Papua No.1 News Portal | Jubi

Jayapura, Jubi – Sebanyak 102 sekolah di Kota Jayapura, Papua sedang melakukan peningkatan mutu internal agar mutu sekolah tetap terjamin. Dari 102 sekolah tersebut, 60 Sekolah Dasar, 20 SMP, 15 SMA, dan 7 SMK.

Read More

Anggota tim pendamping SPMI dari LPMP (Lembaga Penjaminan Mutu Pendidikan) Papua, Juni Susanti, SH, MPd mengatakan peningkatan mutu sekolah didampingi tim pendamping Sistem Penjamin Mutu Internal (SPMI) dari LPMP Papua.

Kegiatan pendampingan yang dibantu 20 tenaga pendamping tersebut berlangsung sejak Oktober hingga berakhir 17 November 2020. Pada Selasa (17/11/2020) masing-masing sekolah mempresentasikan laporan hasil program kepada tim pendamping.

Susanti menjelaskan pendampingan yang dilakukan meliputi penyusunan dokumen dan pelaksanaan siklus yang harus dilakukan sekolah.

BACA JUGA: Kota Jayapuran targetkan peningkatan mutu pendidikan

“Siklus itu mulai dari analisis data mutu, perencanaan pemenuhan mutu, implementasi  sampai pada evaluasi dan penetapan mutunya,” katanya.

Penetapan mutu, kata Susanti, dianalisis dan direncanakan kembali pemenuhan mutunya. Kemudian diimplementasikan, dievaluasi, dan ditetapkan lagi.

“Itu siklus berputar terus-menerus setiap tahunnya tanpa berhenti,” ujarnya.

Menurut Susanti, siklus tersebut merupakan bentuk spiral yang terus-menerus berputar tanpa henti sehingga sekolah harus tetap melaksanakan peningkatan mutu. Hal itu bertujuan agar peningkatan mutu pendidikan di sekolah masing-masing terjamin.

Bagi sekolah yang belum mencapai standar mutu, kata Susanti, maka sekolah harus terus melakukan siklus tersebut untuk membuat perencanaan dari analisis rapor mutu.

“Sehingga dengan perencanaan dan implementasi itu akan meningkatkan kualitas sekolah itu sendiri, baik dari kualitas guru maupun dari kualitas siswanya,” katanya.

Susanti mengatakan dengan adanya perencanaan yang dilakukan melalui analisis data mutu, melalui rapor mutu yang diperoleh sekolah. Dari analisis tersebut bisa dibuat perencanaannya lalu dilaksanakan, diaksikan dan diimplementasikan.

“Menjadi sebuah peningkatan mutu melalui delapan standar pendidikan yang ada di sekolah tersebut dan dampaknya tentu akan meningkatkan pendidikan di Kota Jayapura,” ujarnya.

Ketua Tim Penjamin Mutu Pendidikan Sekolah (TPMPS) SMA YPPK Teruna Bakti Jayapura, Papua Dra. Regina Asmuruf, MSi mengatakan pihak sekolah berusaha meningkatkan mutu sekolah dengan membentuk tim penjamin mutu sekolah.

“Kerja tim meliputi delapan standar nasional pendidikan yang harus dipenuhi dan selain delapan standar tersebut ada program-program lainnya,” katanya.

Delapan standar nasional pendidikan tersebut, terdiri atas standar isi, proses, penilaian pendidikan, pendidik dan tenaga, sarana dan prasarana, serta pengelolaan dan standar pembiayaan.

“Sejauh ini untuk sekolah Teruna Bakti yang masih kurang adalah standar sarana-prasarana serta pendidik dan tenaga kependidikan,” ujarnya.

Untuk yang masih kurang, sekolah sedang berusaha memperbaiki dan memenuhi standar, sehingga tahun depan bisa dievaluasi.

“Sarana-prasarana kita itu yang masih kurang adalah ruang kelas, karena masih memakai laboratorium untuk belajar, kalau toilet memang sudah ada toilet wanita dan pria cuma rasionya belum memenuhi standar, karena kami punya 700 siswa,” katanya.

Selain itu ada tenaga pendidik di mana masih ada guru yang harus mengisi dengan mengajar tambahan jam untuk mata pelajaran lainnya.

“Misalnya ada guru Kimia yang mengajar prakarya karena belum ada guru khusus mapel tersebut, ada juga guru Matematika yang masih kurang karena Matematika itu pelajaran umum, semua kelas harus belajar, jadi kami sangat butuh,” ujarnya.

Regina menyampaikan ada pula program-program yang dilakukan sekolah untuk meningkatan mutu sekolah, yakni penguatan pendidikan karakter, gerakan literasi sekolah, proses belajar-mengajar, penilaian, sekolah sehat, dan kegiatan ekstrakurikuler.

“Contoh gerakan literasi, sebelum kegiatan belajar-mengajar dimulai kami dahului 15 menit dengan membaca cerita, kalau untuk ekskul ada olahraga dan sains,” katanya.

Menurut Regina masa pandemi sangat mempengaruhi mutu pendidikan sekolah, karena salah satunya tidak bisa melakukan penilaian sikap maupun karakter siswa secara langsung.

“Sehingga penilaian sikap diambil dari absensi kehadirannya saja dan jam belajar di masa pandemi dikurangi dari semula 90 menit dan tersisa 60 menit saja,” kata guru Biologi tersebut.(CR-7)

Editor: Syofiardi

Related posts

Leave a Reply