100 unit pondok jualan untuk mama Papua diresmikan

Papua No. 1 News Portal | Jubi ,

Manokwari, Jubi– Sebanyak 100 (seratus) unit bangunan pondok jualan semi permanen untuk mama-mama Papua hari ini diresmikan oleh Gubernur Papua Barat, Dominggus Mandacan. Peresmian 100 pondok jualan itu merupakan salah satu bentuk dukungan kepada mama – mama Papua yang memiliki potensi namun terkendala sarana prasarana.

Dominggus Mandacan meresmikan 100 pondok jualan tersebut di Kampung Maripi, Distrik Manokwari Selatan, Senin (5/11/2018). Kepada mama-mama Papua, Gubernur berharap untuk memanfaatkan pondok jualan tersebut sebaik mungkin dengan dijaga dan dirawat sehingga tidak disalahfungsikan.

"Mama-mama Papua yang jualan pinang juga punya peran penting dalam pembangunan di Papua Barat, dengan demikian semua potensi yang ada kita harus kerahkan untuk kemajuan dan kesejahteraan sesuai visi-misi Pemerintah Papua Barat saat ini," ujarnya.

Ia juga meminta mama – mama Papua untuk mampu mengatur keuangan dengan baik sehingga usaha yang digeluti bisa menghasilkan pendapatan yang stabil bagi keluarga.

"Mama Papua harus bisa mengatur keuangan, biar sedikit tapi kalau diatur dengan baik pasti bisa menghasilkan yang lebih banyak,” ujar Gubernur Mandacan.

Sementara itu, Kepala Dinas Sosial Papua Barat Lasarus Indouw mengatakan, pembiayaan 100 pondok jualan untuk mama-mama Papua tersebut bersumber dari dana Otsus yang dianggarkan dalam APBD Papua Barat tahun 2018 senilai Rp3 miliar.

Dia berharap, melalui pondok jualan yang diberikan, kiranya dapat menghapus stigma kesenjangan sosial di Tanah Papua.

"Program ini merupakan prioritas Dinas Sosial Papua Barat selaku Instansi yang masuk dalam enam urusan wajib tipe-A. Kami berharap ini bisa meningkatkan perekonomian mama – mama Papua," katanya.

Ketua Gabungan Pengusaha Konstruksi Nasional (Gapeknas) Kabupaten Manokwari, Robby Wanggai mengatakan, 100 bangunan pondok jualan yang dibangun tersebut merupakan program Pemerintah Papua Barat melalui Dinas Sosial.

Dengan ukuran pondok 3×4 semi permanen yang dibangun, kata Robby, mama-mama Papua tidak saja berjualan pinang, tapi juga bisa jualan makanan atau hasil kerajinan tangan seperti tas rajutan atau kreasi lainnya.

"Ekonomi mama Papua selama ini dianggap tertinggal, dan  jangan sampai ada kecemburuan sosial sehingga melalui program Dinas Sosial, Gapeknas dan ASPAP selalu siap untuk berkarya bagi mama-mama Papua,” ujarnya. (*)

 

Related posts