Papua No.1 News Portal | Jubi
Nabire, Jubi – Pelaksanaan Olahraga Nasional (PON) XX di Provinsi Papua merupakan sebuah berkat bagi warga asli Papua, serta seharusnya berdampak positif terutama bagi ekonomi kerakyatan khususnya mama-mama Papua sebagai perajin noken.
Wakil Ketua Fraksi Otsus DPR Papua utusan wilayah adat Lapago dan Meepago, Yakoba Lokbere, mengaku kecewa atas sikap Panitia Besar PON XX yang tidak memberikan ruang bagi mama-mama perajin noken, yang setiap hari berjualan di pinggir jalan raya hingga harus terkena panas dan hujan.
“Yang selama ini kita ketahui bahwa mereka (mama-mama) berjualan di pinggir jalan tadah hujan dan panas, harusnya Panitia Besar PON dan Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Provinsi Papua harus merekrut dan mengambil kebijakan, dengan memberikan kesempatan kepada mama-mama Papua perajin Noken, untuk bisa membuat sebanyak mungkin sesuai dengan kebutuhan peserta yang hadir,” ungkap Yakoba Lokbere kepada Jubi di Nabire, Rabu (22/9/2021).
Lokbere menegaskan, dari pantauan pihaknya noken-noken yang bakal dijadikan ikon dalam pelaksanaan PON, ternyata dipesan PB PON XX di salah satu perusahaan di luar Papua (Jawa).
“Apakah ini yang disebutkan memberikan peluang bisnis dalam arti ekonomi kreatif kepada mama-mama Papua? Saya sebagai perempuan Papua (mama) sangat kecewa terhadap sikap PB PON XX,” ujarnya.
Lokbere mengaku, dirinya sudah menanyakan kepada mama-mama Papua apakah telah direkrut atau tidak, dan jawabannya ternyata tidak.
“Ternyata belum ada pemesanan noken dari PB PON XX kepada mama-mama Papua. Oleh karena itu, sebagai perempuan Papua (mama) saya sangat kecewa dengan tindakan PB PON XX ini. Hal yang kecil saja kita tidak mampu untuk melihat apa yang menjadi harapan, apa yang menjadi kebutuhan, apa yang menjadi keinginan oleh mama-mama sebagai masyarakat kita. Bagaimana kita mau berpikir untuk meraih hal yang besar?” tuturnya.
Sementara itu, penggagas noken menjadi Warisan Budaya Papua ke UNESCO, Titus Pekei, mengaku heran sebab ada pihak tertentu hendak meniadakan peran perajin noken Papua, dalam event nasional yang akan diselenggarakan beberapa waktu ke depan di Papua.
“Apabila pihak lain meniadakan peran perajin noken Papua berarti identik dengan memalsukan suvenir noken khas Papua. Karena suvenir noken yang dibuat di luar sana itu, identik dengan kantong plastik yang tidak punya nilai warisan budaya Papua. Noken khas Papua tidak bisa diimitasikan sepihak tanpa sepengetahuan mama-mama perajin noken Papua,” ujarnya. (*)
Editor: Kristianto Galuwo
