Manokwari, Jubi – Perjuangan untuk tetap eksis di tengah kehidupan masyarakat belum sepenuhnya diperoleh oleh kelompok Waria di Manokwari. Agenda kontes kecantikan Waria di yang semula direncanakan berlangsung di Manokwari pada 9 Maret akhir pekan lalu tidak terlaksana.Pasalnya sejumlah pihak yang beda pendapat mengecam keberadaan waria di Manokwari.
Yuliana Numberi, aktivis perempuan di Manokwari sangat menyayangkan pihak-pihak yang melakukan intimidasi secara tidak langsung kepada kelompok waria di Manokwari.
Bagi Numberi, secara lahiriah mereka (waria) tidak inginkan hidup seperti demikian, tapi justru mereka terbentuk dari didikan awal dalam rumah tangga ataupun karena pengaruh lingkungan.
“Kelompok Waria juga masuk dalam gender. Mereka sebenarnya tidak pernah punya cita-cita untuk hidup seperti itu. Tapi mereka itu dari latar belakang keluarga yang berbeda-beda pola hidup, ataupun mereka terpengaruh dari lingkungan. Jadi bagi saya, Waria harus dilindungi setara dengan laki-laki dan perempuan dalam kehidupan sosial,” ujar Numberi kepada Jubi, Senin (11/3/2019).
Berkaitan dengan kontes kecantikan waria yang tidak terlaksana, kata Numberi, sepatutnya kegiatan tersebut dilihat nilai positifnya. Bahwa mereka ingin berkarya melalui kemampuan mereka. Sebagai sesama manusia dan warga negara, kelompok Waria jangan sampai dimarginalkan.
“Ada cara-cara yang lebih etis dan manusiawi jika instansi terkait, punya program untuk mendampingi dan merangkul mereka. Yang perlu dilakukan adalah bagaimana mendorong mereka untuk tidak mengubah kodrat. Jadi yang berjenis kelamin laki-laki tetap dengan kodratnya begitu pula dengan yang berjenis kelamin perempuan,” ujar Numberi.
Di tempat terpisah, ketua Forum Komunikasi Waria (FKW) Manokwari Vence Huwea menilai Pemerintah Daerah (Pemda) Kabupaten Manokwari melakukan diskriminasi terhadap kaum waria yang juga sebagai warga Negara Republik Indonesia .
“Kami selama ini tidak mendapat perhatian dari pemerintah, karena beberapa program kerja kami yang diusulkan kepada pemerintah dalam hal ini dinas-dinas terkait sama sekali tidak direspon seperti organisasi,” ujarnya kepada awak media belum lama ini.
Dia akui sejak Forum Komunitas Waria (FKW) Manokwari tahun 2018 hingga saat ini belum mendapat perhatian maupun kesetaraan sebagai organisasi yang juga seperti organisasi masyarakat lainnya.
Padahal menurut Vence, dalam FKW Manokwari, banyak potensi yang harus dikembangkan diantaranya memasak, fashion, bernyanyi dan kegiatan positif lainnya.
“Kami ingin sekali ada perhatian pemerintah dalam hal ini dinas sosial. Ya mungkin bisa membantu kita rumah singgah atau koperasi untuk kami bisa mengembangkan kreativitas kami sebagai Waria mandiri,”katanya.
Untuk itu, dirinya berharap kepada Pemda maupun Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) agar bisa memberikan perhatian maupun disetarakan dengan komunitas masyarakat lain, supaya jangan ada diskriminasi terhadap kaum Waria.
“Jadi dengan adanya komunitas ini, kami mencoba untuk menghilangkan stigma negatif yang berkembang selama ini ditengah masyarakat, karena kami juga bagian dari warga negara Indonesia,”sebutnya.
Dia mengaku jumlah Waria yang sudah terakomodir dalam FKW Manokwari, kurang lebih 50 orang, dan itupun belum data keseluruhan. Dia yakin akan mengakomodir seluruh kaum waria di Manokwari agar dapat dikontrol, “ tuturnya.
Vence menjelaskan bahwa organisasi FKW punya kegiatan positif lain untuk merangkul kaum Waria untuk hidup sehat dan hindari kegiatan-kegiatan negatif. Salah satu kegiatan FKW yang rutin dijalankan adalah sosialisasi HIV/AIDS bagi kalangan komunitas maupun masyarakat luas. (*).
Editor: Syam Terrajana
