Papua No.1 News Portal | Jubi
Sentani, Jubi – Warga menolak pembangunan jalan di Kampung Nolokla, Distrik Sentani Timur, Kabupaten Jayapura. Jalan alternatif untuk menunjang pelaksanaan Pekan Olahraga Nasional (PON) 2020 tersebut dikhawatirkan menggusur dusun sagu mereka.
“Kalau dusun sagu digusur, kami mencukupi kebutuhan keluarga dengan apa? Pemerintah seharusnya membantu usaha kecil untuk mama-mama di kampung, bukan malah membangun jalan dan mengusur dusun sagu,” kata Magdalena Ansaka, warga Nolokla.
Penolakan terhadap pembangunan jalan itu diutarakan warga kepada para legislator Komisi B DPRD Kabupaten Jayapura saat mengunjungi Nolokla, Jumat (22/11/2019). Mereka berjanji memperjuangkan aspirasi masyarakat tersebut.
“Pemerintah daerah sedang menggiatkan program perlindungan dan pengawasan terhadap hutan sagu, sagu masuk sekolah, serta wajib makan sagu. Lalu, kenapa dusun sagu harus digusur untuk pembangunan jalan alternatif?,” kata Ketua Komisi B DPRD Kabupaten Jayapura Eymus Weya.
Weya menyarankan Pemerintah Kabupaten Jayapura membicarakan kembali rencana proyek jalan tersebut dengan warga setempat. Bisa juga, mereka mencari lokasi lain yang tidak melintasi dusun sagu di Nolokla.
Jalan alternatif dibangun pemerintah untuk mengurai kemacetan lalu lintas di kawasan pesisir Danau Sentani. Kawasan itu meliputi Telaga Ria, Nolokla, Kampung Harapan, dan Nendali di Distrik Sentani Timur hingga Yabaso di Distrik Sentani kota.
Tokoh Pemuda Nolokla Charlie Nerre turut mempertanyakan manfaat pembangunan jalan tersebut. Kalau pun ada, manfaatnya tidak sebanding dengan dampak penggusuran dusun sagu yang selama ini menjadi sumber pangan dan nafkah utama warga.
“PON 2020 hanya (berlangsung) dua pekan. Setelah itu, jalan alternatif ini untuk siapa? Dusun sagu sudah tidak ada. Bagimana nasib masyarakat di kampung ini,” kata Nerre. (*)
Editor: Aries Munandar
