Warga Distrik Amberbaken Papua Barat keluhkan minimnya sosialisasi vaksin covid-19

Papua
Ketua fraksi Otsus DPR Provinsi Papua Barat George Karel Dedaida menyerahkan paket sembako kepada warga Kampung Kabibuwan Distrik Amberbaken kabupaten Tambrauw (Jubi/Dokumentasi Pribadi).

Papua No.1 News Portal | Jubi

Manokwari, Jubi – Minimnya sosialisasi vaksin Covid-19 mengakibatkan sebagian warga Distrik Amberbaken kabupaten Tambrauw Papua Barat belum mengetahui manfaat vaksin Covid-19.

Kondisi ini tercatat dalam aksi bersama Gebyar Merah Putih oleh Dewan Pimpinan Daerah (DPD) Garuda Merah Putih bersama fraksi Otsus DPRP Papua Barat dan Sentral Organisasi Karyawan Swadiri Indonesia di distrik Amberbaken selama dua hari (6-7 Agustus) lalu.

Read More

Ketua Fraksi Otsus DPRP Papua Barat George Karel Dedaida membenarkan situasi yang dialami sebagian warga Distrik Amberbaken ini karena minimnya sosialisasi manfaat vaksin COVID-19.

“Saya sendiri mendatangi lokasi itu dan mendapatkan informasi dari masyarakat maupun kepala Distrik Amberbaken tentang kondisi warga yang masih terhasut kabar bohong bahaya Vaksin Covid-19,” kata George, Senin (9/8/2021).

George mengatakan warga Distrik Amberbaken belum sepenuhnya memahami tentang penularan virus Corona maupun penyuntikan Vaksin, karena memang minim sosialisasi dari petugas.

“Kita tidak bisa menyalahkan masyarakat. Tapi ini menjadi masukan bagi Pemerintah daerah dan instansi terkait untuk melakukan sosialisasi ke daerah terpencil,” kata dia.

Selanjutnya kepala Kampung Kabibuwan Distrik Amberbaken Andreas Warijo mengakui bahwa masyarakat belum memahami secara baik mengenai program vaksinasi Covid-19, disebabkan kurangnya sosialisasi dari pemerintah dan instansi terkait di daerah itu.

Warijo mengatakan bahwa pemberitaan yang selama ini dikonsumsi oleh warga adalah pemberitaan bersifat negatif tentang efek samping vaksin itu sendiri sehingga menjadi sesuatu yang sangat menakutkan bagi warganya.

“Masyarakat kampung ini gampang sekali dengar informasi tidak benar, Apalagi tidak ada sosialiasi kepada kami,” tutur Andreas.

Sementara  Ketua Sentral Organisasi Karyawan Swadiri Indonesia (Soksi) Papua Barat, Samuel Mandowen mengatakan, cukup miris melihat kondisi ini.

“Saya katakan miris karena kedatangan kami untuk membagikan paket sembako, namun kami dapati beberapa warga bergegas lari dan menutup pintu rumah,” katanya.

Dia juga menegaskan, bahwa sebenarnya masyarakat bukan menolak program vaksinasi, tapi mereka belum siap Karena pemahaman yang masih terbatas disebabkan kurangnya sosialiasi itu sendiri.

“Banyak cara untuk kita bisa lebih dekat dengan masyarakat dan membantu atasi kepanikan mereka mengenai vaksin COVID-19 yang mereka dengar, dan mereka baca,” kata Mandowen. (*)

Editor: Edho Sinaga

Related posts