Papua No. 1 News Portal | Jubi
Makassar, Jubi – Pimpinan Umum Koran Jubi dan Jubi.co.id, Victor C Mambor menyatakan ada berbagai tantangan dihadapi media untuk menghasilkan liputan berkualitas dari berbagai wilayah di Papua.
Selain faktor geografis wilayah Papua yang mayoritas hanya ditempuh dengan pesawat yang butuh dana memadai, juga diperlukan kondisi fisik prima dan keberanian.
Pernyataan itu dikatakan Victor Mambor saat menjadi moderator dalam diskusi online “Wamena investigation: What the government ia not telling us”, Rabu (24/6/2020).
Diskusi itu menghadirkan pembicara di antaranya Evi Mariani (Editor The Jakarta Post), Fahri Salam (Editor tirto.id), Aryo Wisageni (Editor Jubi) dan Syofiardi Bachyul (Kontributor The Jakarta Post).
Para pihak ini merupakan mereka yang terlibat dalam kolaborasi liputan bersama menggali berbagai fakta pascaunjuk rasa antirasisme di Wamena, Jayawijaya yang meluas menjadi rusuh pada 23 September 2019.
“Banyak yang bertanya bagaimana menghasilkan liputan berkualitas di Papua. Pertama adalah [ketersediaan] biaya, fisik [yang prima], dan nyali [atau keberanian],” kata Victor Mambor.
Menurutnya, tak ada aturan dasar dalam membuat liputan kolaborasi selain tetap berpegang pada kode etik jurnalistik, independensi dan Undang-Undang Nomor 40 tahun 1999 tentang Pers.
“Sebenarnya tak ada aturan dasar, masalah network (jaringan) saja. Kalau kita punya network, kita mesti gunakan dengan baik,” ujarnya.
Katanya, pada dasarnya semua media ingin menyajikan berita berkualitas kepada pembaca. Menggali fakta yang belum diungkap, bukan jurnalisme ludah (tak mengecek lagi ungkapan narasumber dan langsung memberitakannya). Dengan berkolaborasi membuat liputan, jurnalis dapat menggali berbagai isu.
Dalam diskusi yang sama, Editor The Jakarta Post, Evi Mariani mengakui media-media di Jakarta sulit menjangkau Papua yang jaraknya jauh dari ibu kota negara. Akan tetapi dengan adanya media lokal yang memiliki perspektif memadai dalam pemberitaan terkait Papua, sangat membantu.
“Kolaborasi media lokal [di Papua] dan [nasional di] Jakarta memang penting. Media di Indonesia secara keseluruhan [terutama media] nasional sudah jelas Jakarta sentris, Jawa sentris dan banyak wilayah lain tidak diberitakan,” kata Evi.
Menurutnya, ketika ada kejadian di Papua, media di luar Papua lebih cenderung membuat narasi tunggal versi otoritas setempat. Situasi ini disebabkan sulitnya mengakses informasi kepada pihak lain di Papua, terutama ke kalangan masyarakat. Akan tetapi, akhirnya terjadi ketimpangan informasi.
Editor tirto.id, Fahri Salam mengatakan kolaborasi liputan antara Jubi, tirto.id dan The Jakarta Post pascaperistiwa Wamena memberikan banyak pelajaran.
“Pelajaran yang kami dapat, setiap kejadian penting di Papua, selama orang Papua percaya kepada kita mereka tidak sungkan membagi cerita (informasi). Jurnalisme yang baik, itukan harus datang dari sumber pertama,” kata Fahri. (*)
Editor: Edho Sinaga
