Papua No. 1 News Portal | Jubi
Jakarta, Jubi – Bupati Lumajang, Jawa Timur Thoriqul Haq mengaku mendapat ancaman pembunuhan usai menertibkan pemungutan liar atau pungli di sektor pertambangan pasir. Ancaman itu tidak disampaikan secara langsung melainkan melalui pesan WhatsApp dari nomor yang tidak bisa ia identifikasi. “Diancam saya dibunuh,” kata Thoriq, Rabu (16/6/2021) malam.
Salah satu yang membuat Thoriq khawatir adalah ancaman terhadap keluarga dan anaknya. Saat ini anak pertama Thoriq sedang bersekolah di Surabaya sementara dirinya di Lumajang. Hal ini sempat membuat Thoriq bimbang, memilih antara memperbaiki pelayanan pemerintah atau keselamatan keluarganya. “Mereka sampai memfoto sekolah anak saya,” kata Thoriq.
Baca juga : Masyarakat diminta lapor jika petugas lakukan pungli
Kapolda Papua Barat: Lapor jika ada pungli dalam penerimaan Polri
Pungli dana Bansos, aparat desa ini jadi buronan polisi
Ancaman pembunuhan itu sendiri merupakan terkait inspeksi mendadak (Sidak) dan penertiban dilakukan Thoriq terhadap pungli di pengelolaan jasa timbang truk pengangkut barang.
Saat itu, Thoriq menemukan adanya pemalsuan MoU Pemerintah Kabupaten Lumajang dengan pihak ketiga atau swasta mengenai penyatuan pajak dan biaya jasa timbang. Kebijakan itu, kata Thoriq, mulai berlaku sejak 2005 silam dan telah disengketakan di pengadilan. Pemkab Lumajang dinyatakan bersalah. Namun, MoU tetap berjalan. “Tapi penarikan jasa timbangannya terus berlangsung,” ujar Thoriq menjelaskan.
Kasus lain yang Thoriq ungkap adalah Pungli di sektor Surat Keterangan Asal Barang (SKAB). Tiap truk, kata Thoriq, pemerintah mematok biaya Rp25 ribu. Ia kemudian mengonfirmasikan hal tersebut kepada pengangkut atau warga yang bertugas menjaga portal dan menjadi kepanjangan tangan pemilik izin tambang.
“Tapi di masyarakat di lokasi pertambangan itu bisa Rp60 ribu bisa Rp100 ribu bisa Rp120 ribu satu SKAB,” katanya.
Tindakan pemungutan liar belakangan menjadi sorotan publik usai Presiden Joko Widodo merespons keluhan sopir kontainer di kawasan pelabuhan Tanjung Priok, Jakarta Utara. Sopir-sopir tersebut mengeluhkan pungli yang dilakukan petugas pelabuhan. Mereka juga kerap dipalak preman saat terjebak macet di jalanan. (*)
CNN Indonesia
Editor : Edi Faisol
