Papua No. 1 News Portal | Jubi
Jayapura, Jubi – Tentara Pembebasan Nasional Papua Barat Komando Daerah Pertahanan atan TPNPB Kodap Ngalum Kupel memperingati hari deklarasi negara Papua Barat 1 Juli 1971 di Kabupaten Pegunungan Bintang, Papua, Kamis (1/7/2021) pekan lalu. Dalam keterangan pers tertulis yang diterima Jubi pada Minggu (4/7/2021), TPNPB Kodap Ngalum Kupel menyatakan akan terus melawan penjajahan Indonesia di Papua.
Foto yang dipublikasikan TPNPB Kodap Ngalum Kupel menunjukkan bahwa peringatan 1 Juli 1971 itu diikuti puluhan prajurit dan warga, termasuk anak-anak. Panglima Kodap Ngalum Kupel, Brigadir Jenderal Lamek Taplo menyatakan pihaknya tidak berhenti melawan penjajahan Indonesia. “Pasukan TPNPB-OPM Kodap Ngalum kupel menegaskan sikap bahwa kami menolak segala macam pembangunan tawaran Pemerintah Indonesia,” kata Taplo dalam keterangan pers tertulisnya.
Taplo mengingatkan semua warga sipil di Kabupaten Pegunungan Bintang untuk tidak ikut campur dalam konflik bersenjata TPNPB dan aparat keamanan TNI/Polri. “Kami tetap tembak mati siapapun warga sipil yang menyamar sebagai mata-mata intelijen Indonesia [dan] membocorkan informasi tidak benar tentang TPNPB,” katanya.
Baca juga: TPNPB buat kampanye internasional agar DK PBB intervensi Papua
Taplo juga menegaskan Pemerintah Kabupaten Pegunungan Bintang dan kelompok warga sipil tidak terlibat dengan upaya perpanjangan berlakunya Otonomi Khusus (Otsus) Papua. “Siapapun yang terlibat dengan perpanjangan Otsus Papua Jilid II, kami minta untuk segera berhenti. Kembalikan hak kemerdekaan kami yang dirampas,” ujar Taplo.
Dalam keterangan pers tertulisnya yang diterima Jubi pada Senin (5/7/2021), Komandan Operasi TPNPB, Jenderal Lekagak Telenggen juga meminta semua warga sipil tidak menjadi mata-mata aparat keamanan TNI/Polri. “Siapapun dia, baik itu guru, Pegawai Negeri Sipil, anak sekolah, tukang bangunan, [mereka] yang menyamar jadi menjadi mata-mata Indonesia tidak akan kami biarkan, sebab sudah banyak orang korban,” kata Telenggen.
Ia menegaskan pihaknya menolak Otsus Papua, dan meminta kemerdekaan Papua. “Segelintir orang yang mengatasnamakan Papua meloloskan agenda Jakarta, terutama Otonomi Khusus, padahal kami minta merdeka,” ujar Telenggen dalam keterangan pers tertulisnya. (*)
Editor: Aryo Wisanggeni G
