Tigi Barat akan gelar seminar Pendidikan Akbar

Jubi | Portal Berita Tanah Papua No. 1
 
Nabire, Jubi –
Perbaikan pendidikan akan menjadi agenda utama pada Seminar Pendidikan Akbar menjelang Hari Pendidikan Nasional (Hardiknas) 2017 di tingkat distrik Tigi Barat, Kabupaten Deiyai, Papua, pada 25-26 Mei mendatang.
 
“Jadi, materi dan narasumber dalam seminar pendidikan akbar tidak lepas dari persoalan pendidikan secara umum,” kata Ketua panitia Hardiknas Distrik Tigi Barat, Mathias Douw, kepada Jubi, di Nabire, Kamis (20/4/2017).
 
Mathias mengatakan pihaknya akan mengundang Delegatus Pendidikan Keuskuspan Timika dan Biro pendidikan Sinode Kingmi Papua untuk membahas nasib pendidikan di daerah tersebut.
 
Ia menyebut para kepala sekolah di distrik itu, “membuahkan bibit kemalasa bagi guru bawahan, terutama terkait penggunaan dana Biaya Operasional Sekolah (BOS),” ucap Mathias.
 
Sementara itu, Kepala Distrik Tigi Barat Fransiskus Bobii yang ditemui Jubi terpisah di Nabire berpendapat proses pendidikan di masa lalu dan  masa kini sangat berbeda jauh. Perbedaan itu menjadi lebih buruk dari masa lampau.
 
Fransiskus mengharapkan seminar tersebut nantinya menghasilkan pembahasan dan ide yang dapat diterapkan untuk memperbaiki system pendidikan di daerah  Deiyai. Kesempatan itu juga, ucapnya, “Akan mengetahu siapa aktor yang memacetkan proses pendidikan di wilayah  Tigi Barat. Ya, aktor perusak  proses pendidikan di masa kini akan diketahui nanti setelah ini diseminarkan.”
 
Fransiskus mengatakan pihaknya telah berkomunikasi dengan pihak pimpinan gereja ketua Klasis Tigi Utara, Tigi Barat dan Klasis Debey dan Pastor Paroki Segala Orang Kudus (SOK) Diyai, untuk terlibat dalam seminar Pendidikan Akbar tersebut.
 
Kedua lembaga pendidikan swasta terbesar di wilayah itu: YPPK dan YPPGI, dipandang semestinya lebih maju dari sekolah negeri, namun ia pun tidak tertata karena beberapa faktor.
 
“Kami menemukan beberapa faktor penyebab macetnya pendidikan, yakni pemerintah sebagai fasilitator tidak serius mengejar kualitas dan lebih mementingkan kuantitas, serta keseriusan membangun manusia dalam meningkatkan sumber daya manusianya tidak terlihat. Pihak gereja Katolik dan Kingmi terkesan mengabaikan  proses pendidikan Yayasan yang adalah lembaga tertua. Terkesan Pengelolah sekolah Katolik dan sekolah YPPGI  tidak  mengontrol atas maju mundurnya proses pendidikan,” ujarnya. 
 
Selain itu, faktor minimnya perhatian dari para orangtua, kata Fransiskus. “Kaum lelaki (suami) kini berkeliaran di kota Nabire. Kedatangan mereka terkesan ada faktor iming-iming harapan kesejahteraan hidup,” katanya.
 
“Mereka turun ke kota,  keluarga hidup  tanpa pembinaan terutama bagi anak-anak mereka. Perjalanan hidup masa depan sedang dimatikan karena faktor iming-iming yang ditawarkan dan mereka melupakan pentingnya hidup masa depan anak-anak mereka,” tegas mantan wartawan Papuapos Nabire ini. (*)
 

Related posts