Papua No. 1 News Portal | Jubi
Nabire, Jubi –Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Anak (PPA) telah menetapkan prioritas pembangunan guna mengakhiri tiga persoalan yang disebut Three Ends, yakni akhiri kekerasan terhadap perempuan dan anak, akhiri perdagangan orang, dan akhiri ketidakadilan akses ekonomi terhadap perempuan.
Untuk mengupayakan hal itu, dibutuhkan dukungan dan keterlibatan seluruh komponen masyarakat, termasuk tokoh adat, agama, dan lembaga masyarakat sesuai fungsi, kapasitas, dan keahlian mereka di wilayah masing – masing.
“Menjadi tanggung jawab kita bersama untuk menangani permasalahan perempuan dan anak, terutama yang terjadi di sekitar kita," ujar Menteri Yohana Yembise di Nabire, Kamis (7/6/2018) lalu.
Menteri Yohana, meyakini banyak tokoh masyarakat, adat, dan agama di Papua yang memiliki kepedulian dan telah melakukan sesuatu yang berharga bagi perempuan dan anak.
Sehingga pertemuan dengan kokoh adat, tokoh masyarakat dan agama diyakini berpotensi dalam menggerakkan mereka untuk bekerja secara kolaboratif dan bersinergi, maka akan memberikan kekuatan yang luar biasa dalam upaya mewujudkan kesejahteraan perempuan dan anak.
“Pertemuan ini menjadi sangat strategis karena dapat membangun komitmen, menyamakan persepsi, dan menggugah kepedulian mereka tentang berbagai permasalahan yang dihadapi perempuan dan anak," katanya.
Maka komitmen yang sudah terbangun dan persepsi yang sama dalam menyikapi permasalahan tersebut akan menjadi bekal berharga untuk berkolaborasi dan bersinergi, baik dengan pemerintah pusat dan daerah, maupun sinergi antara tokoh adat, agama, dan masyarakat.
Lanjut Yembise mengatakan perempuan menjadi pilar yang diperhitungkan saat ini, karena merupakan aset pembangunan SDM. Negara dikatakan belum maju apabila perempuan belum berada pada garis aman.
"Perempuan harus dijaga, dihormati, dimuliakan karna mereka akan menghasilkan generasi Papua, maka dari itu kita harus selamatkan perempuan," lanjut Yohana.
Mama Yembise, sapaan akrabnya juga mengatakan Papua tercatat menempati indeks pembangunan manusia terendah.
"Mari kita putuskan mata rantai kekerasan terhadap perempuan dan anak, kita selamatkan mereka, maka dari itu kita harus memperhatikan keluarga karna keluarga adalah kunci perubahan. dan saya berpesan agar tidak menikahkan anaknya di usai dini, tetapi suruh sekolah dan jangan putus sekolah karna pendidikan sangat penting,” tutupnya.
Sekretaris Suku Yerisiam Gua, Robertino Hanebora mengatakan seruan dan Menteri sangat baik untuk dilaksanakan. Tapi jangan hanya menjadi slogan.
"Jangan hanya jadi slogan tapi harus diwujudkan dengan peran aktif dinas pemberdayaan perempuan di daerah," katanya.
Hanebore juga menyoroti pencanangan kampung layak anak. Seperti di kampung Nigasi dan Wadio di Nabire.
"Sekali lagi, jangan hanya slogan, tapi bagaimana ada kontrol yang baik. sebab selama ini tidak dilanjutkan dengan program yang nyata," katanya.(*)
