Papua No. 1 News Portal | Jubi
Jayapura, Jubi – Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kota Jayapura, Papua Fachruddin Pasolo mengatakan dengan angka Covid-19 yang masih tinggi maka proses belajar-mengajar di Kota Jayapura tetap dilakukan dari rumah atau secara daring.
“Kita termasuk kota yang mempunyai angka terinveksi Covid-19-nya tinggi sehingga tidak ada pilihan lain, kita belajar dari rumah,” katanya kepada Jubi di kantor Wali Kota Jayapura, Papua Senin, 18 Januari 2021.
Fachruddin mengatakan Pemerintah Kota Jayapura, Papua sudah melakukan survei di sekolah-sekolah terhadap orang tua siswa. Perbedaan hasil survei tidak terlalu signifikan dan lebih menunjukan kekhawatiran orang tua akan belajar tatap muka.
“Kita sudah selesai survei, ada yang setuju dan tidak setuju, yang setuju 60 persen, yang tidak 40 persen, tapi kalau tidak semuanya setuju untuk mengambil kebijakan tidak bisa, akhirnya Wali Kota memutuskan belajar dari rumah sampai Maret, baru nanti dievaluasi lagi,” katanya.
BACA JUGA: Kondisi belajar tatap muka di era pandemi
Menurut Fachruddin, meski ada kerinduan dari siswa untuk belajar tatap muka di sekolah, namun dalam proses belajar keselamatan dan kesehatan merupakan yang paling diutamakan di masa pandemi Covid-19.
“Ya, kita tunggu saja, tergantung tingkat wabahnya ini,” katanya.
Jika wabah reda atau Kota Jayapura masuk zona hijau, tambah Fachruddin, maka sudah bisa belajar tatap muka.
“Tapi kalau belum itu menjadi ancaman bagi tenaga pendidik, siswa, dan kepada masyarakat, ya, sa kira kita memilih belajar dari rumahlah,” ujarnya.
Menurut Fachruddin belajar dari rumah sangat mempengaruhi tingkat efektivitas siswa, terutama yang tidak memiliki akses untuk pembelajaran daring, misalnya keterbatasan pulsa hingga tak memiliki handphone.
“Di beberapa sekolah, contoh Kalam Kudus, As Shalam, Papua School itu tidak ada masalah dan mereka sangat efektif karena mereka punya orang tua mampu dan memiliki akses pembelajaran melalui daring,” katanya.
Kalau semua siswa memiliki akses yang baik, maka efektivitas pembelajaran daring akan baik.
Hal lain yang menjadi priblem adalah pembelajaran daring lebih banyak transfer ilmu pengetahuan. Sedangkan pendidikan karakter masih agak susah karena membutuhkan contoh.
Meski begitu ia tetap berupaya menjadikan pendidikan di Kota Jayapura selalu memiliki kualitas yang baik.
“Jadi kalau mau dibilang turun sih tidak, tapi hanya memang ada kendala, makanya pendidikan harus kerja sama semua pihak, baik pemerintah, maupun Dinas Pendidikan, sekolah, dan orang tua harus mempunyai pemahaman yang sama,” ujarnya.
Agar kualitas pendidikan tetap baik, kata Fachruddin assessment (penilaian) terhadap guru di masa Covid-19 tetap diberikan berupa ujian. Guru juga melakukan evaluasi terhadap pembelajaran untuk melihat kemampuan daya serap siswa.
“Sebelum masuk pembelajaran tahun ajaran baru, guru-guru diikutkan workshop untuk melihat sejauh mana rencana pembelajaran mereka efektif untuk siswa,” katanya.
Selain itu guru telah dilatih membuat kurikulum darurat pembelajaran di masa Covid-19. Sehingga metode dalam penyampaian mata pelajaran kepada siswa lebih efektif.
Fachruddin berharap guru lebih kreatif dan inovatif dalam proses pembelajaran, serta tidak membebani siswa dengan pemberian tugas yang terlalu banyak.
“Guru harus mengatur pemberian tugas sehingga siswa tidak merasa terbebani dan merasa stres, bahkan orang tua juga ikut stres,” katanya.
Paling penting, tambahnya, waktu bertatap muka dengan siswa singkat, tapi efektif sehinga siswa tidak jenuh dan terbebani.
“Itu kan secara psikologis kurang bagus, kalau sudah seperti itu maka berapa pun pelajaran dikasih mereka tidak akan bisa menyerap dengan baik,” ujarnya.
Kepala SD YPPK Gembala Baik Abepura, Clara Setiani mengatakan selama masa Covid-19 proses pembelajaran di sekolahnya dilakukan secara daring melalui aplikasi e-class dan Zoom. Siswa setiap bulan mendapatkan paket data dari sekolah sebesar 5 GB.
“Puji Tuhan semua siswa kami sudah punya handphone, paling yang menjadi kendala itu jaringan dan pengoperasiannya, kalau ada yang handphonenya bermasalah mereka datang ke sekolah mengambil tugas,” katanya.
Clara mengatakan telah menyampaikan hasil kuis tes kesiapan belajar tatap muka kepada Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kota Jayapura, Papua. Dari 819 siswa hanya 123 siswa yang orang tuanya setuju untuk tatap muka, sisanya tidak setuju karena pertimbangan Covid-19 yang semakin tinggi.
Apabila nanti dinas memutuskan belajar tatap muka, kata Clara, dari sekolah tidak serta merta langsung melaksanakan tatap muka, melainkan akan memberitahukan terlebih dahulu kepada orang tua siswa.
“Meskipun sudah ada sekolah yang siap, seperti SMP Muhammadiyah yang mau belajar tatap muka pada Februari, tapi kalau kami jika orang tua tua belum siap, kami tidak berani untuk tatap muka,” ujarnya. (*)
Editor: Syofiardi
