Papua No. 1 News Portal | Jubi
Nabire, Jubi – Kepala Suku Besar Yerisiam Gua, Daniel Yarawobi menegaskan, pihaknya ingin menjaga hak ulayatnya sehingga akan menarik restribusi dari setiap orang yang mencari nafkah di wilayah itu.
Hal ini perlu dilakukan lantaran suku ini menilai, kurang ada pengawasan dari pemerintah dan pengelola Taman Nasional Teluk Cenderawasih (TNTC) dan pihak – pihak yang berkompeten.
“Surat sudah disampaikan kepada seluruh masyarakat. setelah kami pertimbangkan bahwa tidak ada pengawasan dari pemerintah kepada khususnya Distrik Yaur, bukan karena tidak mampu tapi kami menilai kurang adanya koordinasi yang baik antara masyarakat dengan pengawasan.,” tegas Yarawobi di Nabire. Kamis (17/10/2019).
Dijelaskan, tiga suku yakni, Yerisiam Yua, Yaur dan Umari telah bersepakat untuk menarik retribusi dari nelayan, operator atau pengusaha kayu yang sedang berada di tanah hak ulayatnya, baik darat maupun laut yang berada di Distrik Yaur.
Untuk retribusi laut bagi nelayan luar (bukan orang asli setempat) akan dikenakan 7 juta rupiah perbulan . Sedangkan untuk operator chainsaw, pengusaha kayu dan pendorong dikenakan Rp. 500 ribu perbulannya. termasuk pengelola taman wisata Hiu Paus (pengusaha) dan TNTC Rp 10 juta perbulan.
“Entah mampu atau tidak tapi kami sudah hitung. Beberapa puluh tahun ini penghasilan mereka sudah lebih dari cukup. Biaya retribusi ini diambil guna memperlancar pengawasan terhadap usaha – usaha di areal suku besar Yerisiam dan dua suku lainnya. ini demi kepentingan bersama,” jelas Daniel Yarawobi.
Yarawobi menilai, pengawasan bauk darat maupu laut sangat kurang. Kendati ada TNTC tapi pengawasannya kurang. Hutan dirusak termasuk laut. Nelayan bahkan orang asli bukan hanya memancing tapi juga menggunakan obat beracun untuk menangkap ikan. Orang pribumi maupun masyarakat pendatang merusak laut dan daratan.
“Makanya kami tiga suku ini sudah sepakat. Demi menunjang program bersama. kami akan koordinasi dengan semua pihak termasuk Distrik dan keamanan, surat – surat sudah didistribbusikan kepada semua pihak yang berkompeten,” terangnya.
Sekretaris suku Yerisiam Gua, Robertini Hanebora menambahkan, sebagai lembaga adat pihaknya mendukung program yang yang sudah digagas. Sebab ini merupakakan cara untuk melindungi wilayahnya agar tidak dirusak oleh siapapun.
Editor: Syam Terrajana
