Jubi | Portal Berita Tanah Papua No. 1
Jayapura, Jubi – Kepala SMA Satria, Kota Jayapura, Effendi Ibrahim mengaku pihaknya pernah menemukan beberapa calon siswa baru yang menggunakan ijazah palsu saat mendaftar ke sekolah yang dipimpinnya.
“Pernah ada kami dapatkan, yaitu pada 2014 satu orang, 2015 satu orang, dan 2016 juga satu orang, dengan temuan tersebut secara otomatis siswa tersebut tidak kami terima karena kami tidak bisa melegalkan hal yang tidak legal,” katanya kepada Jubi di ruang kerjanya, Rabu (22/3/2017).
Terkait penggunaan ijazah palsu tersebut, Effendi berharap ada tindakkan keras dari Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kota Jayapura dan Dinas Pendidikan Provinsi Papua terhadap sekolah-sekolah yang memperdagangkan ijazah tersebut.
“Ini sudah mencoreng mutu pendidikan di Papua, khususnya di Kota Jayapura, walaupun sekolah kami bukan sekolah unggulan tetapi kami berupaya agar siswa yang diterima di sini adalah siswa yang betul-betul menempuh pendidikan sesuai dengan jenjang pendidikan sebelumnya dengan mengantongi ijazah asli bukan palsu,” ujarnya.
Dikatakan, jika tetap menerima siswa yang menggunakan ijazah palsu maka secara tidak sengaja sekolahnya juga ikut merusak mutu pendidikan di Bumi Cenderawasih.
“Janganlah kita menggadaikan mutu pendidikan dengan hanya meraup keuntungan dan mengorbankan putera-puteri penerus bangasa,” katanya.
Terkait ijazah palsu, sebelumnya SMA PGRI juga menemukan 14 siswanya menggunakan ijazah palsu. Kepala SMA PGRI Kota Jayapura Janet Berotabui kepada Jubi mengatakan, hal itu ia ketahui setelah menjabat kepsek tahun lalu.
Ke-14 siswa berijazah palsu di antaranya tiga orang di Kelas X, enam orang di Kelas XI, dan lima siswa di Kelas 12. Para siswa berasal dari wilayah pegunungan Papua. (*)
