Sisi lain pandemi Covid-19, banyak buronan tertangkap akibat lockdown

Papua penjara
Ilustrasi penjara - pixabay.com

Papua No.1 News Portal | Jubi

Jakarta, Jubi Pandemi virus Covid-19 yang memunculkan kebijakan karantina wilayah atau lockdown membuat seumlah buronan pelaku kriminal mudah tertangkap. Lockdown yang diterapkan pemerintah membuat para buron kehabisan tempat untuk bersembunyi. Termasuk di China, ketika seorang buronan bernama Qiu Binhua harus menyerahkan diri ke polisi setelah empat tahun dalam pelarian.

Read More

Warga Kota Shenmu, Provinsi Shaanxi dinyatakan sebagai tersangka atas dugaan pencurian mayat dan menjualnya untuk sebuah ritual. Ia melarikan diri ke daerah Hulestai Sumu, di bagian barat Mongolia Dalam. Di sana petugas membatasi pergerakan orang dan mendirikan pos pemeriksaan untuk memindai kode QR para pelintas.

“Qiu, yang telah panik dalam waktu yang lama, berada di bawah tekanan dan akhirnya menyerahkan diri ke Polisi Hulestai pada 11 Februari. Tanpa KTP dia tidak bisa lari,” kata polisi dalam sebuah pengumuman setelah penangkapannya,” dikutip dari CNN, Senin, (21/12/2020).

Baca juga : PNG dan politik di balik hukuman mati 

Perencana penculik Gubernur Michigan diadili

Puluhan perempuan korban perdagangan seks gugat Pornhub

CNN mencatat para buronan menghadapi tantangan baru ketika harus bersembunyi di saat pandemi global terjadi. Pergerakan mereka pun makin terbatas, beberapa terpaksa menyerahkan diri, sementara yang lain ditangkap saat melakukan perjalanan.

Aparat hukum ditengarai memanfaatkan situasi untuk meningkatkan upaya mereka dalam memburu para tersangka. Perubahan gaya hidup para tersangka di tengah karantina wilayah dan pandemi membuka celah yang bisa dimanfaatkan aparat untuk melanjutkan pengejarannya.

Kepolisian Inggris misalnya, membuat operasi pengejaran khusus para buronan selama lockdown dengan kode Operasi Suricate.

Badan Kejahatan Nasional (NCA) Inggris mencatat hampir 300 buronan mereka tangkap selama karantina wilayah pasa musim semi kemarin. “Secara substansial, ini lebih (banyak) dari yang biasanya kami lihat,” kata Manajer Operasi Biro Kejahatan Internasional MCA Arthur Whitehead.

Salah satu yang berhasil ditangkap adalah Arshid Ali Khan, buronan di Belanda karena diduga melakukan pelecehan seksual terhadap seorang anak dan melarikan diri selama enam tahun. Penyelidik NCA melakukan pemeriksaan keuangan yang mengidentifikasi Khan ada di kota Leicester, Inggris. Polisi setempat pun menangkapnya pada April.

“Lockdown adalah hal unik bagi kami karena itu menghasilkan kesempatan untuk membatasi pergerakan para penjahat yang berusaha menghindari kami,” kata Whitehead.

Pada akhir Mei, David John Walley, tersangka pengedar narkoba yang dicari sejak 2013, ditangkap oleh Kepolisian Greater Manchester saat merayakan ulang tahun ke-45 di sebuah properti di daerah tersebut. Sementara itu, Mark Fitzgibbon, seorang pengedar narkoba dari Merseyside dan salah satu yang paling dicari di Inggris, ditangkap di bandara Liverpool pada Juli setelah terbang dari Portugal setelah 16 tahun dalam pelarian

Whitehead menjelaskan kebijakan karantina wilayah atau lockdown dan Covid-19 membuat orang-orang mengubah perilaku mereka sehingga orang menjadi lebih bergantung pada teknologi dan pada tempat mereka berada. (*)

Editor : Edi Faisol

 

Related posts