Papua No. 1 News Portal | Jubi
Jayapura, Jubi – Koordinator Program Studi Seni Tari, Institut Seni Budaya Indonesia atau ISBI Tanah Papua, Muhamad Ilham M Murda mengatakan seni tari tradisional saat ini di Tanah Papua hanya terlihat saat pagelaran atau festival, namun hilang dari keseharian masyarakatnya. Pemerintah daerah harus memfasilitasi para pelaku seni tradisi untuk menghidupkan sanggar seni dan menghidupkan aktivitas seni tradisi.
“Pola pikir pelaku seni kita terpaku menjadi seorang penari/koreografer yang ada di atas panggung. Pelaku kreatif dan pemerintah daerah tidak banyak berpola pikir memberikan pemahaman tentang bagaiman mengelola manajemen yang baik untuk tiap sanggar atau komunitas seni yang ada di Jayapura,” kata Ilham saat dihubungi Jubi pada Rabu (23/6/2021).
Ilham menyitir pernyataan penari dan seniman Bali, I Made Bandem yang mengibaratkan seni tradisi seperti benda antik, kuno, yang dilihat masyarakat sebagai hal yang kurang menarik. Karena dipersepsikan sebagai barang antik, seni tradisi seperti barang yang penuh debu dan lumut, hanya di dalam museum, sehingga semakin lama eksistensinya pun tergusur.
Baca juga: Budaya pengolahan makanan jadi fokus Festival Seni Melanesia 2022
“Jikalau benda kuno dan antik tersebut bertemu dengan orang yang mencintainya, benda itu akan diambil, dibersihkan dan dirawat sehingga memiliki nilai yang sangat tinggi,” kata Ilham.
Ilham menyatakan pemerintah daerah harus memfasilitasi pelaku seni untuk mengembangkan sangar seni untuk menghidup seni tradisi. “Belum ada ruang atau art space yang menjadi wadah atau market bagi seniman dan budayawan untuk melakukan pertunjukan, pameran, dan diskusi tentang budaya. Harusnya di Papua itu ada, sebab di Papua ada banyak sekali seni tradisional dari masing-masing suku yang berbeda,”katanya.
Menurutnya, instansi pemerintah yang membidangi seni dan budaya cenderung melakukan program yang berulang yang tidak berdampak kepada pelaku seni tradisi. “Hal itu dipicu karena kurangnya kualitas program yang dibuat, sehingga hanya memberikan semangat yang sifatnya hanya sementara bagi seniman yang hadir dalam program yang dibuat,” katanya.
Ilham mengatakan tidak ada solusi jangka pendek yang bisa dibuat. Pelestarian seni tradisi hanya bisa berkelanjutan jika dilakukan dengan para seniman untuk terus dan berkarya. “Seni tradisi ibarat bibit tanaman yang baik, tapi sayangnya tumbuh di tanah yang tidak subur dan tidak dirawat oleh petani yang baik. Pelaku seni dibiarkan berjuang menjadi seniman militan. Akhirnya banyak seniman yang pergi keluar dari Papua, memilih menetap di tanah yang subur di Jawa dan lain sebagainya,” katanya.
Baca juga: Demianus W Koerni berpulang, Papua kehilangan salah satu musisi terbaiknya
Ilham juga menyoroti banyaknya orang yang menjadikan pagelaran dan festival seni sebagai ajang mencari uang, memakan hak para seniman tradisi. “Sehingga seniman kadang tidak mendapat haknya sesuai dengan skill yang mereka punya,” katanya.
Ilham mengatakan minat anak Papua terhadap seni tradisi sudah sangat berkurang, karena tidak adanya ruang atau wadah buat mereka mempertunjukan bakat yang mereka punya. “Imbasnya adalah Anak muda Papua sendiri lebih menyukai seni tari modern, karena mereka punya ruang yang lebih fleksibel, karena mereka bisa tampil dimana saja,” katanya.
Salah seorang seniman Papua asal Meepago, Herman You mengatakan pemerintah tidak jeli melihat perkembangan seni budaya yang ada di daerahnya masing-masing. Padahal, apabila potensi seni dikelola dengan baik, akan meningkat Pendapatan Asli Daerah.
“Ketika kita berbicara tentang seni, maka kita berbicara tentang harga diri kita. Pengelolaan seni di daerah harus dioptimalkan oleh pemerintah daerah. Jika pemerintah membiarkan, tentu akan berujung pada degradasi nilai-nilai seni budaya itu sendiri,” katanya. (*)
Editor: Aryo Wisanggeni G
