Papua No.1 News Portal | Jubi
Sentani, Jubi – Masyarakat dengan segala daya dan upaya harus mempertahankan keberadaan hutan sagu di Papua. Iktiar itu demi keberlangsungan sumber penghidupan mereka.
“Untuk kepentingan PON (Pekan Olahraga Nasional) XX sekali pun, pemerintah daerah semestinya tahu mana pohon yang harus ditebang. Kalau ada sagu ditebang atau digusur, konsekuensinya harus ada penanaman kembali,” kata Kepala Suku Kampung Bambar Orgenes Kaway, Rabu (22/1/2020).
Kaway menilai program penanaman kembali sagu saat ini masih jauh dari memadai. Dia menyontohkan proyek percontohan di Kampung Toware, dan Kehiran yang masing-masing 2 hektare.
Anggota DPR Papua tersebut menganggap luasan penanaman baru itu belum sebanding dengan laju kerusakan hutan sagu di Sentani. “Rentang pertumbuhan (siklus produksi) sagu sangat lama. Kalau ditebang terus-menerus (tanpa regenerasi), populasinya dipastikan perlahan punah.”
Karena itu, Kaway meminta pemerintah daerah juga menyiapkan pembibitan sagu dalam jumlah memadai. “Saat masyarakat menebang (sagu) untuk kebutuhan sandang dan pangan, mereka (juga) sudah siapkan tanaman sagu baru (pengganti).”
Bupati Mathius Awoitauw mengatakan mereka telah menyiapkan sejumlah kawasan relokasi hutan sagu di Kabupaten Jayapura. Salah satunya di Bukit Phaneyau.
“Bukit Phaneyau disiapkan sebagai lokasi pembibitan. Ada beberapa jenis sagu yang ditanam kembali di sana,” kata Awoitau dalam kesempatan terpisah. (*)
Editor: Aries Munandar
