Ratusan warga Kabupaten Puncak masih mengungsi ke Ilaga

Ilustrasi Kontak Tembak di Papua
Ilustrasi pixabay

Papua No. 1 News Portal | Jubi

Jayapura, Jubi – Sebanyak 653 warga yang berasal dari Distrik Mabugi dan Distrik llaga Utara, serta warga dari empat kampung di Distrik llaga mengungsi pusat wilayah llaga, ibu kota Kabupaten Puncak, Provinsi Papua. Mereka mengungsi sejak Tentara Pembebasan Nasional Papua Barat atau TPNPB dan aparat gabungan TNI/Polri terlibat kontak tembak pada tanggal 27 April 2021.

Para warga dari empat kampung di Distrik Ilaga turut mengungsi menuju pusat permukiman di Ilaga, demi menghindari konflik bersenjata yang terus berlanjut di Kabupaten Puncak. Mereka berasal dari Kampung Wuloni, Tagaloa, Kalebut dan Kimak.

Read More

Kepala Dinas Sosial Kabupaten Puncak, Peniel Wakerkwa mengatakan hingga saat ini ratusan warga sipil masih mengungsi dan bertahan di llaga. Wakerkwa menyatakan Pemerintah Kabupaten Puncak telah menerima dan mendata para pengungsi itu.

“Pengungsi dari Distrik Mabugi dan Distrik llaga Utara sudah masuk dan ada di kota llaga. Mereka sudah ditempatkan di tujuh tenda. Jumlah masyarakat dari Distrik Mabugi [mencapai] 282 orang, dan [dari] llaga Utara 371 orang. Di Distrik llaga, ada empat kampung [yang warganya mengungsi], yakni Kampung Wuloni, Tagaloa, Kalebut dan Kimak. Mereka [ditempatkan] di Jalan Kimak sampai Iringame I, dan II. Ada juga yang tinggal di perumahan Pemda” kata Wakerkwa.

Baca juga: Mahasiswa asal Kabupaten Puncak minta Jokowi tarik pasukan aparat keamanan

Wakerkwa mengatakan sebagian besar warga sipil di Kabupaten Puncak mengungsi ke hutan. Pemerintah Kabupaten Puncak memperkirakan jumlah penduduk di Distrik Mabugi mencapai 3.000 orang, Distrik Ilaga Utara 3000 orang. Sedangkan jumlah penduduk di Kampung Kimak dan Kampung Tagaloa diperkirakan antara 800 dan 900 orang.

“Sebanyak 653 penduduk sudah berada di llaga. [Akan tetapi], sebagian besar [warga yang mengungsi] ada di hutan. Dan yang punya uang sudah [mengungsi] ke kota [Timika, Nabire, dan Jayapura],” beber Wakerkwa.

Wakerkwa mengatakan hingga kini masyarakat tidak bisa beraktivitas di llaga, karena pasukan TPNPB maupun pasukan TNI/Polri sama-sama berjaga-jaga di luar kota. “Masyarakat tidak bisa beraktivitas secara bebas untuk mencari makan, karena TPNPB dan TNI/POLRI semua ada standby. Jadi, masyarakat tidak bisa pergi ke kebun. Semua ada di jantung kota Ilaga,” katanya.

Wakerkwa mengatakan pihaknya telah memberikan sejumlah bantuan kepada para warga sipil yang mengungsi ke Ilaga. Akan tetapi, ia mengharapkan masyarakat luas untuk turut membantu para warga yang mengungsi itu.

“Kami dari Dinas Sosial menyampaikan agar [masyarakat luas] membantu kami [memberikan bantuan bagi para pengungsi. Kami membutuhkan bantuan] seperti sembako dan beras, karena kami susah dapat [cari] makan di tengah kota llaga,” ujar Wakerkwa.

Wakerkwa menyatakan para pengungsi di Ilaga itu kebanyakan warga yang kurang mampu dan tidak memiliki cukup simpanan uang untuk bertahan di lokasi pengungsian. “Yang ada uang, mereka sudah ke kota tetangga Timika, Nabire, dan Jayapura,” imbuhnya. (*)

Editor: Aryo Wisanggeni G

Related posts