Ratusan keluarga di Kampung Dobut terjangkit ISPA

Seorang anak sedang menyantap makanan di salah satu warung di Kampung Dobut. Kondisi kesehatan anak-anak di kampung Dobut terancam dengan dugaan polusi udara pabrik semen. (Jubi/Hans Arnold Kapisa)
Seorang anak sedang menyantap makanan di salah satu warung di Kampung Dobut. Kondisi kesehatan anak-anak di kampung Dobut terancam dengan dugaan polusi udara pabrik semen. (Jubi/Hans Arnold Kapisa)

Papua No. 1 News Portal | Jubi

Manokwari, Jubi – Ratusan kepala keluarga (KK) di Kampung Dobut, Distrik Manokwari Selatan, Kabupaten Manokwari, menderita Infeksi Saluran Pernafasan Akut (ISPA).

Read More

Kepala Puskesmas Maripi, Ayub Mansim, kepada Jubi mengatakan sepanjang tahun 2019 keluhan penyakit paling tinggi khusus warga kampung Dobut adalah ispa.

Dia pun belum dapat memastikan faktor penyebab tingginya infeksi akibat udara yang diderita warga kampung Dobut tersebut.

“Rata-rata hanya ISPA, malaria dan luka ringan. Tapi paling tinggi ISPA,” ujar Mansim, Jumat (29/11/2019).

Menurut Mansim, sosialisasi penggunaan masker kepada warga kampung Dobut sudah dilakukan sebagai langkah pencegahan, mengingat lokasi kampung Dobut bersebelahan dengan lokasi pabrik semen.

“Kampung dobut adalah satu kampung yang masuk dalam wilayah kerja layanan kami (puskesmas Maripi) dari total 16 kampung wilayah kerja kami di Distrik Manokwari Selatan. Sosialisasi bahkan pembagian masker sudah kami berikan tapi kembali lagi kepada perilaku dan aktivitas warga sehari-hari,” ujarnya.

Kepala Kampung Dobut, Septinus Aibu mengatakan, batuk berdahak dan infeksi saluran pernafasan jadi keluhan warganya. Lebih ironi lagi, anak-anak di kampung tersebut menderita batuk berdahak hingga batuk darah.

“Kami yang orang dewasa bisa tahan batuk dengan minum obat. Tapi anak-anak ini kasihan, ada yang sampai batuk dahak berdarah,” kata Aibu.

Dia berharap, pertemuan yang diinisiasi olehnya pada Sabtu pekan depan untuk menghadirkan Pemerintah dengan pihak pabrik semen ada solusi penyelesaian.

“Saya sudah kasih undangan ke pemerintah distrik, Dinas Lingkungan Hidup dan juga ke pabrik semen supaya kita pertemuan dan cari solusi. Jangan warga saya jadi korban,” tuturnya. (*)

Editor: Edho Sinaga

Related posts