Raksasa sepak bola Indonesia yang masih “nyenyak”

Para pemain Persipura saat diarak dari Bandara Sentani menuju ke Kota Jayapura saat tim tersebut merebut juara Liga Indonesia tahun 2013 – Jubi/Roy Ratumakin.
Para pemain Persipura saat diarak dari Bandara Sentani menuju ke Kota Jayapura saat tim tersebut merebut juara Liga Indonesia tahun 2013 – Jubi/Roy Ratumakin.

Papua No. 1 News Portal | Jubi

Jayapura, Jubi – Bermodalkan empat bintang di jersey kebesaran Mutiara Hitam julukan Persipura sedikit membuat masyarakat pecinta sepakbola Indonesia takjub dengan pretasi yang telah dilahirkan.

Read More

Menjuarai kasta tertinggi sepakbola Indonesia empat kali yakni pada tahun 2005, 2009, 2011, dan 2013 serta menjadi runner up pada tahun 1980, 2010, 2012, dan 2014 membuat Persipura menjadi satu-satunya klub yang mempunyai segudang prestasi.

Bahkan, Persipura menjadi satu-satunya klub asal Indonesia yang paling sering berkiprah di kompetisi level Asia yaitu di AFC Cup, dan Persipura juga menjadi satu-satunya klub Indonesia yang sempat masuk perempat final AFC tahun 2011 dan semifinal AFC Cup tahun 2014.

Keberhasilan Persipura Jayapura mencapai semifinal Piala AFC 2014 masuk buku sejarah. Tim Mutiara Hitam tercatat sebagai terbaik ke-4 dalam daftar ranking tim Asia Tenggara di ajang tersebut.

Fox Sports Asia menempatkan Persipura Jayapura di atas wakil asal Laos (Lao Toyota), Filipina (Ceres-Negros, Kaya Iloilo), dan tiga wakil Myanmar (Yangon United, Nay Pyi Taw, dan Ayeyawady). Pencapaian Persipura ke semifinal dianggap lebih tinggi daripada capaian klub-klub tersebut.

Persipura sendiri masuk ke semifinal setelah melewati hadangan lawan-lawan tangguh. Setelah lolos dari fase grup, Persipura yang saat itu dilatih Jacksen F. Tiago menggilas Yangon United 9-2 di Babak 16 Besar.

Al Kuwait lalu menjadi korban berikutnya dari keberingasan Boaz dan kawan-kawan. Kalah 2-3 di leg pertama, Persipura mengamuk dan menang 6-1 atas Al Kuwait.

Sayangnya, langkah Persipura harus terhenti oleh wakil Kuwait, Al-Qadsia. Persipura digulung 0-6 pada leg kedua setelah kalah 2-4 pada leg pertama.

Persipura hampir mengulangi kiprah sukses tersebut di musim sebelumnya. Sayangnya, kali ini Persipura hanya mampu mencapai Babak 16 Besar. Sejak saat itu, Persipura tidak pernah lagi masuk Piala AFC.

Di tingkat turnamen pra musim, Persipura juga sempat menjadi runner up pada Piala Indonesia sebanyak tiga kali yaitu pada tahun 2006, 2008, dan 2009. Menjadi juara di turnamen Community Shield Indonesia, tahun 2009 dan juga mengangkat piala pada Indonesia Inter Island Cup tahun 2011.

Bahkan, pada kompetisi tidak resmi kala PSSI mendapat sanksi dari FIFA, Persipura berhasil meraih gelar juara di Indonesia Soccer Championship A, pada tahun 2016.

Namun dengan segudang prestasi tersebut, Persipura kini seperti masih “nyenyak” dengan prestasi yang pernah diraihnya. Banyak kalangan menilai bahwa Persipura “nyenyak” karena sering gonta ganti pelatih dan keluar masuknya pemain sehingga ekspetasi awal manajemen selalu meleset alias tak meraih gelar juara.

Prestasi masa lalu belum bisa diulangi Persipura Jayapura di dua musim terakhir. Persipura Jayapura gagal menjuarai Liga 1 2017 dan Liga 1 2018.

Pada Liga 1 2017, Persipura Jayapura mengakhiri kompetisi di urutan enam klasemen. Semusim berikutnya, prestasi makin merosot lantaran Persipura Jayapura hanya bisa menempati urutan 12 klasemen dan nyaris dekradasi.

 

Bangkit sekarang atau tinggal kenangan

 Persipura harus bangkit. Itu kalimat yang tepat untuk pasukan Luciano Leandro guna mempertanggungjawabkan komitmennya kepada publik pencinta sepakbola Papua. Pasalnya, yang kini berlaga di kompetisi kasta tertinggi di tanah air hanya menyisakan Persipura Jayapura.

Saudara-saudaranya kini telah dimilik orang lain. Sebut saja, Persiwa Wamena yang kini terdegradasi hingga ke divisi 3, Persidafon Dafonsoro yang kini tergelam dan belum ada kejelasan soal kelangsungan klub kebangaan masyarakat Kabupaten Jayapura tersebut.

Selain itu ada Persiram Raja Ampat yang harus melepas sahamnya ke PS TNI yang kini berganti label menjadi PS Tira. Terakhir adalah Perseru Serui yang pada musim sebelumnya menjadi pendamping Persipura di Liga 1 kini bermerjer dengan Badak Lampung FC. Kini Perseru Serui berganti nama menjadi Perseru Badak Lampung FC.

Kini harapan masyarakat Papua yang ada dipundak Persipura Jayapura. Dan hanya menurut banyak kalangan, hanya Persipura-lah yang berhasil mengangkat harkat dan martabat orang asli Papua dalam dunia olahraga khususnya sepakbola.

Ketua Umum Persipura Jayapura Benhur Tommi Mano belum lama ini menekankan kepada seluruh jajaran pelatih Persipura bahwa tim dengan julukan lainnya yaitu  “Sang Jenderal” setiap tahun selalu menargetkan gelar juara dan bukan memperbaiki peringkat disetiap pertandingan.

Namun, berkaca pada tiga laga terakhir, Persipura belum mampu memberikan “Janji” kepada pendukungnya akan ekspetasi yang diberikan oleh manajemen Persipura melalui Ketumnya.

“Kami selalu bekerja keras dalam segal hal, baik itu suasana latihan maupun pertandingan. Tetapi hasilnya memang belum memuaskan. Kami akan terus berusaha dan berusaha untuk meraih kemenangan, dan semoga lawan PS Tira nanti kami bisa menang,” kata Luci sapaan akrab dari pelatih kepala Persipura Jayapura.

 

Gonta ganti pemain jadi sebab?

Memasuki kompetisi Shopee Liga 1, 2019, Persipura terlihat sering melakukan gonta ganti pemain. Dua pemain berkebangsaan Brasil, Luis Carlos Rocha da Silva (Pilar) Striker dan gelandang Wallacer de Andreade Medeiros harus dipulangkan karena kedua pemain tersebut terganjal administrasi.

Padahal, kedua pemain tersebut sudah terlibat uji tanding bersama Persipura dan sudah mulai padu dengan gaya permainan dari Boaz Solossa dan kawan-kawan.

Alhasil, pemain-pemain pengganti kedua pemain tersebut didatangkan manajemen tanpa harus melalui rekomendasi dari sang pelatih. Bahkan, ada pemain yang dikontrak namun belum diturunkan dalam tiga laga sebelumnya.

Godstime Ouseloka Egwuatu pemain naturaslisasi asal Nigeria tersebut yang merupakan rekrutan anyar Persipura tersebut juga belum mendapatkan menit bermain. Apa alasannya?

“Dia harus bisa menunjukkan kualitasnya di saat latihan. Kalau dia di latihan bagus, maka suatu saat dia bisa diturunkan dalam pertandingan resmi,” kata Luci.

Artinya, Olisa sapaan akrabnya hingga kini belum bisa bersaing dengan pemain-pemain Persipura lainnya. So, apakah Persipura masih nyaman dengan “Nyenyak” nya itu? (*)

 

Editor : Edho Sinaga

Related posts