Papua No.1 News Portal | Jubi
Jakarta, Jubi – Sekitar 10 ribu orang di Belarus Minggu, (23/8/2020), turun ke jalan berunjukrasa menuntut agar Presiden Belarus Alexander Lukashenko, mengundurkan diri. Aksi massa memenuhi Ibu Kota Minsk, mereka berorasi di dekat tempat tinggal resmi Presiden Belarus sebelum membubarkan diri secara damai.
Gelombang protes yang terjadi dalam dua pekan terakhir di Belarus telah menjadi tantangan besar bagi Presiden Lukashenko, yang sudah 26 tahun memimpin Belarus. Unjuk rasa ini juga menjadi ujian kesetiaan bagi pasukan keamanan Belarus. Aksi masa di Belarus dipicu oleh sengketa Pemilu pada Minggu (9/8/2020).
Namun Presiden Lukashenko menyebut para demonstran tikus. Rekaman media memperlihatkan adanya penggunaan senjata dan pelindung tubuh di tengah unjuk rasa besar itu.
Berita terkait : NATO bantah kerahkan militer di perbatasan Belarus
Pemimpin oposisi Belarus kabur usai Pilpres rusuh
HAM PBB mengutuk kekerasan di Belarus
Lukashenko adalah mantan bos pertanian ketika Belarus masih menjadi bagian dari Uni Soviet. Dia telah dilantik sumpah jabatan sebagai Presiden di tengah sengketa hasil Pemilu.
Beberapa demonstran meneriakinya pengecut. Sebuah rekaman yang dipublikasi di media milik negara memperlihatkan Lukashenko berjalan dengan perlindungan polisi anti-huru-hara dan polisi yang melindungi kediamannya. Lukashenko mengucapkan terima kasih kepada aparat kepolisian yang menjaganya.
Unjuk rasa itu merupakan yang pertama mendekati kediaman Lukashenko. Memasuki sore, para demonstran mulai membubarkan diri. Tidak ada bentrokan dalam aksi protes tersebut. (*)
Editor : Edi Faisol
