Papua No.1 News Portal | Jubi,
Jakarta, Jubi – Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) di Jakarta sebagai upaya pencegahan penularan virus corona (Covid-19) tak berdampak signifikan terhadap kenaikan kualitas udara di Jakarta. Berdasarkan catatan Greenpeace, kualitas udara di Jakarta masih tergolong tidak sehat meski ada kebijakan PSBB.
“Usai PSBB Transisi, didapati juga konsentrasi PM 2,5 dan NO2 di Jakarta terus meningkat. Bahkan, Jakarta berada di peringkat lima untuk ibu kota di dunia dengan kualitas udara (PM 2,5) terburuk menurut laporan IQAir (air visual) yang diluncurkan Februari 2020,” kata Juru Kampanye Iklim dan Energi Greenpeace Indonesia, Bondan Andriyanu dalam keterangan tertulisnya, Senin (14/12/2020).
Baca juga :Warga Jawa Barat paling banyak protes pencemaran udara
Ini langkah DLH Manokwari terkait dugaan polusi pabrik semen
Car Free Day Jakarta belum mampu meningkatkan kualitas udara
Ia mengatakan pengumpulan data yang dilakukan sejak Januari hingga 12 Desember 2020, kualitas udara selama PSBB masih dalam kategori sedang hingga tidak sehat. “Jika dilihat lebih lanjut secara keseluruhan data yang disajikan sepanjang tahun 2020, terlihat hanya 11 hari dengan kategori udara sehat (hijau) yang terdeteksi di dua stasiun pemantauan kualitas udara,” kata Bondan menambahkan.
Rata-rata harian konsentrasi PM 2,5 terdapat 13 hari yang melebihi ambang batas nasional pada Juli hingga Agustus. Sedangkan, data rata-rata tahunan Januari hingga 7 Desember 2020 diperoleh angka 35 mikrogram per meter kubik di Jakarta Pusat dan 43 mikrogram per meter kubik di Jakarta Selatan.
“Yang artinya rata-rata tahunan ini sudah melebihi ambang batas, baik dalam standar WHO (10 mikrogram/meter kubik) ataupun standar Baku Mutu Udara Ambien Nasional (15 mikrogram/meter kubik),” kata Bondan menjelaskan.
Sebelumnya, Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan mengklaim kualitas udara di Jakarta membaik semenjak pandemi Covid-19 melanda Indonesia. Menurut Anies, kembalinya langit biru di Jakarta tidak lepas dari PSBB yang diterapkan sejak April lalu. Sejak saat itu, hampir seluruh kegiatan warga Jakarta dilakukan dari rumah guna mencegah penyebaran Covid-19 meluas.
Peneliti Divisi Pengendalian Pencemaran dan Kerusakan Lingkungan Indonesian Center for Environmental Law (ICEL), Bella Nathania mengatakan, langit biru di Jakarta saat penerapan PSBB tak berarti mengubah indeks kualitas udara buruk.
Menurut Bella kebijakan PSBB dilakukan semata-mata untuk membatasi aktivitas publik dan meminimalisasi penyebaran virus corona, namun tidak diiringi dengan tujuan jangka panjang, yakni memperbaiki kualitas udara yang sebenarnya dapat mengurangi kasus kematian akibat virus corona. (*)
CNN Indonesia
Editor : Edi Faisol
