Ramai-ramai protes melawan ‘perampasan budaya’ PON XX Papua

Papua-petisi
Hasil tangkapan layar petisi Melawan Kultural Apropriasi pada PON XX Papua, Minggu (6/6/2021) pukul 13.25 Waktu Papua – Jubi/IST

Papua No. 1 News Portal | Jubi

Protes publik terhadap penunjukan Nagita Slavina menjadi ikon PON XX Papua mulai bergulir. Tak saja komedian Arie Kriting, sebuah petisi yang ditandatangani hampir 7.000 orang juga menyatakan penolakan publik atas ikon tersebut. 

Melawan Kultural Apropriasi pada PON XX Papua, demikian judul petisi di platform Change.org yang dimulai oleh Stephen Wally kepada seluruh rakyat Indonesia.

Read More

Hingga Minggu (6/6/2021) siang, petisi yang dimulai 3 hari lalu itu telah mendapat hampir 7.000 penandatangan.

“Melalui petisi ini, kami ingin memohon dukungan dari seluruh rakyat Indonesia, untuk memperjuangkan identitas dan eksistensi budaya dan manusia Papua,” demikian Wally membuka kalimat petisinya.

Petisi ini secara khusus menggugat penunjukan Nagita Slavina sebagai ikon PON XX Papua.

“Kami rasa perlu untuk tetap menyuarakan aspirasi kami terkait penunjukkan saudari kami Nagita Slavina sebagai ikon PON Papua… kami merasa sebaiknya duta atau ikon PON Papua juga harus berasal dari Papua. Penunjukkan saudari kami Nagita Slavina kami rasa sangat jauh dan tidak merepresentasikan eksistensi perempuan Papua,” tulis Wally.

Wally menegaskan dipilihnya artis Nagita Slavina tidak mencerminkan keberagaman bangsa, bahkan menjadi dapat mendorong terjadinya cultural appropriation atau perampasan budaya.

Menempatkan perempuan Papua sebagai duta maupun ikon pelaksanaan event nasional di Tanah Papua, akan menjadi gestur yang baik terhadap semua anak bangsa, sekaligus bisa melihat kecantikan dan kemandirian perempuan Papua untuk berdiri dan menjadi juru bicara bagi Tanah Papua sendiri, demikian menurut Wally.

“Sebaiknya identitas dan kehadiran perempuan Papua tetap menjadi prioritas, sehingga perempuan Papua bisa menunjukkan eksistensi dan menjadi representasi budaya bangsa Indonesia yang beragam,” tulisnya.

Petisi ini tidak ditujukan secara resmi pada pengambil kebijakan negara, melainkan digunakan untuk mendapat dukungan publik seluruh Indonesia.

“Melalui petisi ini, kami memohon dukungan dari seluruh rakyat Indonesia untuk mendorong panitia pelaksana mempertimbangkan kembali posisi duta atau pun ikon PON XX Papua untuk bisa ditempati oleh perempuan Papua bersama-sama dengan Kakak Boaz Solossa,” tulis Wally.

Representasi Orang Asli Papua

Nagita Slavina tidak merepresentasikan orang asli Papua. Kabar penunjukan ikon PON XX Papua yang diberitakan media online nasional tertanggal 25 April 2021 itu dengan menampilkan foto Nagita Slavina berpose menggunakan mahkota khas tradisi Papua.

Respons komedian Arie Kriting lewat akun instagramnya, Kamis (3/6/2021), kemudian menjadi viral.

“Sebenarnya sudah sejak awal saya merasa ada yang janggal dengan hal ini, tetapi saya menunggu tanggapan dari saudara saudari asli Papua terkait dengan hal ini. Penunjukan Nagita Slavina sebagai Duta PON XX Papua memang pada akhirnya dapat mendorong terjadinya cultural appropriation. Seharusnya sosok perempuan Papua direpresentasikan langsung oleh perempuan Papua,” tulis Arie sambil menyebut beberapa nama perempuan asli Papua yang sudah dikenal publik dan bisa dipilih.

Tidak menampilkan dan menghadirkan representasi sosok perempuan Papua dengan gambaran yang jelas adalah salah satu wujud perampasan budaya itu, menurut Arie.

Beberapa unggahan Arie terkait hal ini disukai seratusan ribu orang tersebut juga didukung oleh beberapa selebriti ternama, seperti Dian Sastrowardoyo, Happy Salma, dan sutradara Hanung Bramantyo.

Dian Sastro setuju dengan pernyataan Arie terkait perlunya representasi orang asli Papua. “Hegemoni Representasi,” tulisnya dalam komentar paling teratas.

Arie Kriting terus mengingatkan soal representasi Papua dalam perhelatan akbar di Tanah Papua itu dalam 8 unggahan Instagramnya berturut-turut dalam beberapa hari ini.

“PON memang event nasional tapi harus dipahami bahwa tuan rumahnya adalah Papua. Tuan rumah, berarti yang datang adalah tamu. Asian Games juga event semua negara Asia, tapi ketika Indonesia menjadi tuan rumah, maka negara lain adalah tamu,” tulis Arie, Jumat (4/6/2021), sambil menambahkan tak mungkin dalam perhelatan Asian Games lalu Indonesia menunjuk artis dari Jepang, Bangladesh, atau Korea Utara sebagai ikon representasinya.

Arie menegaskan hingga ada penunjukan ikon perempuan baru asli Papua yang akan mendampingi Duta PON XX, Boaz Solossa, pihaknya akan terus menyuarakan aspirasi ini.

Terpisah, dilansir CNN Indonesia, Jumat (4/6/2021), Raffi Ahmad menjawab kritik Arie Kriting soal duta dan ikon PON XX Papua.  Raffi dan sang istri, Nagita Slavina, ditunjuk sebagai tokoh yang merepresentasikan promosi PON XX itu.

Raffi Ahmad mengatakan dirinya dan Nagita ditunjuk sebagai ikon PON Papua, bukan sebagai duta.

Perampasan Budaya

Mengutip tirto.id (19/6/2017) dalam laporannya berjudul ‘Menjadi Rasis karena Menghargai Budaya Lain’, cultural appropriation atau perampasan kebudayaan adalah istilah yang digunakan ketika seseorang mengadopsi atau menggunakan kebudayaan orang lain yang bukan dari etnis atau rasnya—tanpa permisi.

Susan Scafidi dari Fordham University, mendefinisikan perampasan kebudayaan sebagai, ‘Mengambil kekayaan intelektual, pengetahuan tradisional, ekspresi budaya, atau artefak dari budaya orang lain tanpa izin’.

“Kemungkinan besar berbahaya ketika komunitas sumber adalah kelompok minoritas yang telah ditindas atau dieksploitasi dengan cara tertentu, atau ketika objek peruntukan sangat sensitif, misalnya benda suci,” jelas Susan. (*)

Editor: Zely Ariane

Related posts