Polri pastikan terduga teroris Merauke terkait jaringan Makassar

Papua
Ilustrasi serangan bersenjata - Pixabay.com.

Papua No. 1 News Portal | Jubi

Jakarta, Jubi – Kepolisian memastikan 11 terduga teroris di wilayah Merauke terkait dengan kelompok kajian Villa Mutiara merupakan jaringan teroris di Makassar, Sulawesi Selatan. Kelompok kajian Villa Mutiara ini merupakan jaringan teroris yang terafiliasi dengan Jamaah Ansharut Daulah (JAD).

Read More

“Ya (terkait Villa Mutiara), sekali lagi ada kontak di antara mereka itu karena memang kasus di Merauke itu hasil pengembangan dari Makassar,” kata Kepala Biro Penerangan Masyarakat (Karopenmas) Polri Brigadir Jenderal Rusdi Hartono, Senin (7/6/2021) kemarin.

Baca juga : Gubernur Papua apresiasi Densus 88 terkait penangkapan 11 terduga teroris di Merauke 

Tetapkan KKB di Papua sebagai teroris, pemerintah dinilai kehilangan akal sehat 

Label teroris OPM justru berdampak buruk bagi Indonesia

Mereka juga terlibat langsung dalam aksi bom bunuh diri yang terjadi di Gereja Katedral, Makassar beberapa waktu lalu.  Para terduga teroris yang berada di Makassar saling mengenal dengan yang ditangkap di wilayah Merauke. Beberapa di antaranya merupakan warga Makassar yang kemudian menetap di Merauke sebelum ditangkap.

“Di antara mereka sudah saling kenal orang-orang di Merauke. Mereka pernah ketemu,” ujar Rusdi menambahkan.

Menurut Rusdi para terduga teroris itu berada di wilayah Merauke usai melihat aktivitas penegakan hukum yang tinggi oleh Detasemen Khusus (Densus) 88/Antiteror Polri. Mereka pun melakukan rencana-rencana aksi teror di luar wilayah yang biasa dilakukan dengan yang keluar dari Makassar, di antaranya  menuju ke Merauke.

Kepala Divisi Humas Polri Inspektur Jenderal Argo Yuwono mengatakan tim Densus 88 menduga para terduga teroris tersebut merencanakan aksi teror di gereja. Komplotan terduga teroris itu juga diduga berencana mengebom Polres Merauke.

“Sasaran mereka, menurutnya, adalah untuk menyebarkan aksi teror,” kata Argo.

Polisi menyebut para terduga teroris itu telah melakukan baiat atau sumpah setia ke Negara Islam Irak-Suriah (ISIS). Argo menjelaskan orang-orang itu tergabung dalam grup di aplikasi pesan singkat WhatsApp atau Telegram yang bermuatan ekstremisme. (*)

CNN Indonesia

Editor : Edi Faisol

Related posts