Petani anggrek butuh perhatian Pemprov Papua 

Ariel Wally saat memperlihatkan anggrek miliknya di kawasan Tugu Mac Arthur - Jubi/Yance Wenda
Ariel Wally saat memperlihatkan anggrek miliknya di kawasan situs Mac Arthur – Jubi/Yance Wenda

Papua No. 1 News Portal | Jubi

Sentani, Jubi – Yemida Yaboisembut, perempuan 33 tahun asal Genyem, sudah menekuni usaha budidaya anggrek sejak tahun 2014. Ia hanya meneruskan apa yang dirintis orang tuanya sejak tahun 1986.

Read More

“Saya sudah tekuni usaha anggrek ini sejak tahun 2014. Setelah itu saya studi banding ke Malang, baru lanjut lagi dan bagi saya karena ini bagian dari hobi juga dalam merawat bunga anggrek,” jelas Yemida.

Yemida mengatakan bunga anggrek yang ada di kawasan Situs Mac Arthur yang dirawatnya, didatangkan dari kampung asalnya, Genyem. Kebun anggrek ini juga menjadi objek wisata bagi pengunjung, selain Tugu Mac Arthur.

“Ada sekitar 200 spesies anggrek. Tapi yang ada di saya punya tempat ini hanya beberapa jenis saja, tidak semua saya bawa ke sini karena di sini baru dan tempat kecil,” jelasnya kepada Jubi di Sentani, Sabtu (15/6/2019).

Di tempat yang relatif kecil ini, Yemida menata setiap tanaman anggrek, mulai dari yang paling kecil hingga yang paling besar, dengan sebaik mungkin, baik yang di pot maupun yang digantung.

“Anggrek kribo itu jenis anggrek yang besar jadi tidak bisa taruh dalam pot kecil, harus dibuat temapat yang besar,” ucapnya.

Tanaman anggrek miliknya selain dijual juga biasa diikutsertakan dalam festival, pameran bunga, dan kegiatan lain yang digelar di Papua dan juga di luar Papua.

“Kalau yang ukuran kecil tidak dijual tapi kalau yang ukuran besar itu dihitung tangkainya kalau soal jual bunga anggrek ini saya tidak tahu, saya cuman rawat saja kalau soal harga apa itu bapa lebih tahu harga jualnya, tapi kalau untuk kisaran harga bunga anggrek ini paling tinggi Rp15 juta sampai Rp20 juta,” katanya.

Kebun anggrek di kawasan Situs Mac Arthur ini  baru dibuka beberapa bulan silam.

“Karena kebun anggrek ini baru jadi belum banyak yang datangkan kunjung di tempat ini. Ada yang sudah tahu itu mereka datang lihat-lihat lalu balik. Rencana ke depan kebun anggrek ini akan dikembangkan,” katanya.

Di tempat yang sama, Ariel  Wally, pria 54 tahun, petani anggrek yang juga ayah dari Yemida, mengatakan  dari sekitar 5.000 spesies anggrek yang ada di dunia, separuhnya ada di Tanah Papua.

“Anggrek yang ada berkembang di negara-negara lain seperti di Thailand adalah anggrek hasil kawin silang yang aslinya semuanya ada di Tanah Papua,” jelas Ariel.

Ariel menambahkan walau dengan berbagai upaya dilakukan untuk mengembangkan anggrek, namun apa yang dilakukan semuannya bukan asli sehingga ia tetap mempertahankan  yang asli dari Papua.

“Yang asli itu semua ada di Tanah Papua, jadi saya tetap mempertahankan yang asli ini supaya jangan sampai punah. Ke depan tidak hanya tinggal cerita nanti apa yang kita mau sampaikan ke anak cucu kita nanti terus bilang semua dari Papua tapi Papua sendiri tidak ada,” katanya.

Dari usaha anggrek ini, Ariel mengaku sudah banyak memperoleh hasilnya.

“Hasil dari anggrek ini saya sudah bikin rumah, beli motor, dan sekolahkan anak-anak. Selebihnya kembangkan usaha anggrek ini lagi,” ucap Wally.

Ia berencana akan mengembangkan usaha anggrek  menjadi taman anggrek yang lebih representatif karena tempat ini berdekatan dengan situs Mac Arthur. Selain itu dia juga berharap ada perhatian Pemerintah Provinsi Papua dan kabupaten yang lebih serius dan berkesinambungan, tidak hanya saat ada event, baru petani anggrek diundang.

“Selama yang terjadi seperti itu, kami petani anggrek diundang ketika ada kegiatan pameran. Kalau bisa pemerintah provinsi perhatikan kami petani anggrek dengan baik agar bagaimana tanaman anggrek dapat dipertahankan dengan baik karena tanaman-tanaman mudah semakin punya. Jangan hanya mau ada event baru datang ke petani anggrek di kampung-kampung,” kata Wally. (*)

Editor: Dewi Wulandari

Related posts