Papua No. 1 News Portal | Jubi
Merauke, Jubi – Kondisi perumahan masyarakat di dua kampung yakni Kampung Tor dan Kladar, Distrik Waan, Kabupaten Merauke sangat memprihatinkan. Meskipun tak layak, namun tetap dihuni.
Bangunan rumah, baik atap maupun dinding itu, dari daun pohon nipah yang diambil sangat jauh dari kampung tepatnya di Kontuar. Itupun harus mendayung perahu berhari-hari untuk sampai tujuan.
Mantan anggota Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Merauke, Dominikus Ulukyanan, kepada Jubi, Rabu (1/5/2019), mengatakan dirinya baru pulang berkeliling di Pulau Kimaam termasuk di kampung-kampung di Distrik Waan.
“Kondisi masyarakat seperti begini sudah, termasuk bangunan rumahnya. Memang sangat memprihatinkan. Namun mau buat bagaimana, meskipun rusak, namun tetap ditempati,” katanya.
Dijelaskan, komunitas orang asli Papua di kampung itu, hanya sekedar mempertahankan hidupnya. Mereka tak berpikir membangun rumah secara baik terlebih dahulu.
Menyangkut sumber pendapatan, Dominikus mengatakan ikan maupun gelembung ikan menjadi sumber pendapatan mereka. Itupun dapat dijual ketika ada kapal masuk ke sana.
“Saya ingin mengatakan bahwa masyarakat di sana tidak miskin. Karena hasil bumi sangat melimpah. Hanya saja tak ada yang bisa membeli. Jika terdapat akses jalan atau kapal keliling pulau secara rutin, otomatis kehidupan mereka dengan cepat mengalami perubahan,” ungkapnya.
Tokoh masyarakat Distrik Waan, Soter Kamiawi, menambahkan secara umum masyarakat memiliki potensi alam yang sangat mendukung. Hanya persoalannya adalah sulitnya akses transportasi.
“Kalau ada kapal yang beroperasi secara rutin ke setiap kampung, dipastikan hasil alam masyarakat dapat terjual dan mereka bisa mendapatkan uang untuk membeli berbagai kebutuhan hidup sehari-hari,” katanya. (*)
Editor: Dewi Wulandari
