Papua No.1 News Portal | Jubi
Jayapura, Jubi – Mama-mama perajut dan penjual noken, Mince Adi, mengatakan pada momentum HUT ke-9 Noken Papua atau Hari Noken Sedunia, diharapkan Pemerintah Provinsi Papua dan Papua Barat harus memasukkan noken ke dalam materi Muatan Lokal di setiap sekolah, sesuai karakteristik wilayah dan budaya masing-masing.
“Kami minta agar siapa pun yang berada di wilayah budaya Meepago, wajib belajar tentang noken dengan karakteristik Meepago. Dan siapa pun yang berada di daerah Domberai wajib belajar membuat noken dengan karakteristik Domberai, begitu juga dengan wilayah adat lainnya,” katanya, saat menyampaikan materi pada acara seminar dan perayaan HUT ke-9 Noken Papua di Gedung Kesenian Karel Gobai, Sabtu (4/12/2021).
Adi mengatakan, kalau materi tentang noken tidak dimasukkan ke dalam Muatan Lokal sekolah, maka seiring perkembangan zaman ini, anak-anak tidak akan tahu bagaimana mewariskan noken, sesuai karakteristik wilayah dan budaya masing-masing.
“Kami perajut noken tidak khawatir. Tapi kami peduli dengan kebudayaan kami. Sebab orang lain berhasil memasukkan kebudayaan mereka dalam Muatan Lokal. Dan noken sendiri sudah didaftarkan di UNESCO pada 4 Desember 2012,” katanya.
Lanjut Adi, selain pemerintah memasukkan materi noken ke dalam Muatan Lokal, pemerintah juga perlu melakukan budi daya bahan baku noken.
“Artinya jangan merusak hutan sebagai sumber bahan baku noken. Pemerintah harus tegas dengan penghancuran hutan di Tanah Papua,” katanya.
Menurut Adi, terkait materi noken seperti apa dan bagaimana, bisa melibatkan mama-mama dan Titus Pekei selaku penggagas noken, untuk didiskusikan bersama.
“Kalau anak-anak sekolah tahu tentang bagaimana cara membuat noken, kemudian mereka bisa merajut noken, saya yakin dengan daya kreativitas membuat noken itu, akan menuntun mereka untuk lebih kreatif lagi mencoba hal-hal baru lainnya,” katanya.
Sementara itu, salah seorang peserta seminar, Melkias Tekege mengatakan sejak noken ditetapkan UNESCO, seharusnya noken sudah dijadikan mater dalam Muatan Lokal di setiap sekolah.
“Perlu dirumuskan dalam peraturan daerah supaya noken menjadi gerakan bersama, juga bisa menambah kebutuhan ekonomi masyarakat khususnya perajut noken,” katanya. (*)
Editor: Kristianto Galuwo
