Papua No. 1 News Portal | Jubi
Jakarta, Jubi – Seorang pengusaha Singapura diadili di pengadilan distrik setempat dengan dakwaan mendanai serangan teroris di Suriah. Ia mengirimkan uang untuk ISIS senilai Rp10 juta.
Pengusaha bernama Mohamed Kazali Salleh, 50, tahun itu mengaku dalam pengadilan, Senin (19/7/20210 lalu. Ia mengaku bersalah dan berniat mencari pengacara sendiri, sedangkan ia saat ini dia ini ditahan di bawah Internal Security Act (ISA).
Baca juga : Terlibat ISIS, warga Indonesia rencanakan membunuh Mahathir Mohamad
Pria London pembuat video tentang ISIS ditangkap
Kematian 33 tentara Mali, ISIS menyatakan bertanggung jawab
Penuntut meminta agar tidak ada jaminan yang ditawarkan kepada Kazali. Sebab kasus ini akan mengancam keamanan Singapura. Penahanannya juga memerlukan pengaturan khusus. Kasus Kazali selanjutnya akan disidangkan pada 11 Agustus.
Dokumen pengadilan menyebutkan pada tiga kesempatan antara Desember 2013 dan awal 2014, Kazali diduga memberikan uang kepada Wan Mohd Aquil Wan Zainal Abidin. Uang tersebut ditujukan guna memfasilitasi aksi teroris di Suriah.
Pada satu kesempatan, dia dituduh menyerahkan RM 1.000 kepada Wan Mohd Aquil di terminal bus di Johor Bahru. Dua kesempatan lainnya, Kazali diduga mengirimkan US$ 351,75 dan RM 500 melalui Western Union di Singapura dan Malaysia.
Di bawah Undang-Undang Terorisme (Penindasan Pembiayaan), diperkenalkan pada tahun 2002 untuk melawan pendanaan terorisme di sini, Kazali menghadapi hukuman penjara hingga 10 tahun atau denda hingga $ 500.000, atau kedua hukuman, untuk setiap tuduhan.
Dalam sebuah pernyataan pada hari Senin, Kementerian Dalam Negeri mengatakan bahwa Kazali, yang berbasis di Malaysia, ditangkap oleh petugas Cabang Khusus Malaysia pada Desember 2018. Dia kemudian dideportasi ke Singapura dan mengeluarkan Perintah Penahanan berdasarkan ISA pada Januari 2019 karena mendukung ISIS.
“Dia adalah rekan dekat militan ISIS yang berbasis di Suriah, Malaysia, Wan Mohd Aquil bin Wan Zainal Abidin, juga dikenal sebagai Akel Zainal, yang diyakini sebagai pejuang ISIS paling senior di Suriah sebelum dilaporkan mati pada Maret 2019,” kata Kementerian Dalam Negeri Singapura.
Akel, yang merupakan anggota band rock Malaysia tahun 1990-an Ukays, dilaporkan memerintahkan dua pendukung ISIS Malaysia untuk menyerang tempat ibadah dan kantor polisi di Malaysia pada 2019. Namun rencana tersebut digagalkan ketika para pendukungnya ditangkap pada November 2018. (*)
Editor : Edi Faisol
