Papua No.1 News Portal | Jubi
Wamena, Jubi – Sejumlah warga yang selama ini bermukim di Elelim, ibu kota Yalimo, memilih untuk keluar dari Yalimo menuju Wamena, khususnya mereka yang tidak lagi memiliki tempat tinggal karena terbakar.
Hal itu setelah pada Senin (5/7/2021), masyarakat yang melakukan pemalangan di pintu masuk Elelim kembali membuka akses keluar bagi pengungsi yang ingin ke Wamena. Setelah tiba di Wamena, para pengungsi Yalimo ditampung di Gedung Tongkonan Wamena dan sebagiannya memilih untuk tinggal di rumah kerabat mereka.
Ketua Ikatan Keluarga Toraja (IKT) Provinsi Papua, Edie Rante Tasak menyebut, ada 997 orang memilih keluar dari Yalimo menuju Jayawijaya, di mana 737 orang telah ditampung di Gedung Tongkonan Wamena, dan 260 orang memilih pulang ke rumah keluarga terdekat.
“Di gedung Tongkonan bukan hanya warga Toraja saja tetapi dari paguyuban lain juga. Para pengungsi ini disediakan juga makan minum lalu akan dilakukan pendataan lagi,” kata Edie Rante Tasak, di Gedung Tongkonan Wamena, Selasa (6/7/2021).
Kata dia, ditampungnya ratusan warga ini karena sudah tidak memiliki tempat tinggal akibat terbakar dan tanpa layanan kesehatan yang baik dan juga jaminan keamanan, sehingga pengurus IKT provinsi dan Jayawijaya serta pengurus Paguyuban lainnya sepakat untuk mengevakuasi.
“Untuk layanan kesehatan bagi warga pengungsi, saat ini masih dilakukan secara swadaya sambil berkoordinasi dengan Pemerintah Kabupaten Jayawijaya,” katanya.
“Kami juga berterima kasih kepada masyarakat Yalimo telah memberikan perhatian kepada kami, dan memberikan ruang kepada masyarakat kami untuk kembali ke Wamena beristirahat sementara, hingga situasi di Yalimo kembali kondusif,” sambungnya.
Selama di pengungsian di Elelim, terdapat tiga warga yang melahirkan sehingga dievakuasi menggunakan truk ke Wamena karena membutuhkan penanganan persalinan.
Sementara itu, Dandim 1702/Jayawijaya, Letkol Inf. Arif Budi Situmeang mengaku sebelum pengungsi memilih ke Wamena, pos TNI di Elelim baik di Koramil maupun Kodim mempersiapkan personel sebanyak 552.
Menurutnya, pengungsi yang ditampung bukan hanya warga dari luar Papua atau pendatang, melainkan ada beberapa warga dari kabupaten lain di wilayah Lapago lainnya.
“Tanggal 2 Juli ada seorang ibu melahirkan anak laki-laki di pengungsian. Selain memberi rasa aman bagi pengungsi, disiapkan pula sembako dan kebutuhan lain termasuk layanan kesehatan dari ibu-ibu Persit yang berprofesi sebagai bidan dan tenaga kesehatan, mereka dilibatkan langsung dan melakukan trauma healing bagi anak-anak,” katanya. (*)
Editor: Kristianto Galuwo
