Peneliti ingatkan dampak perubahan iklim terhadap persediaan pangan

Ilustrasi pedagang bahan pangan di Pasar- Jubi/Ramah

Papua No.1 News Portal | Jubi

Jakarta, Jubi – Peneliti Center for Indonesian Policy Studies (CIPS) Galuh Octania mengingatkan agar pemerintah mengantisipasi dampak perubahan iklim yang terkait erat dengan ketersediaan beras dan komoditas pangan lainnya di berbagai daerah. Galuh  mengacu pada  kemarau ekstrim tahun 2019 yang berdampak pada menurunnya produksi beras sebesar 7,76 persen.

Read More

“Kondisi iklim yang tak menentu harus diwaspadai karena dapat berpengaruh pada penyerapan beras pada musim panen kedua tahun 2020, yang diprediksi oleh Bulog akan berlangsung sekitar September-November nanti,” kata Galuh, Kamis, (25/6/2020).

Baca juga : Pemkab Teluk Wondama siapkan Rp12 miliar untuk belanja sembako  

Kekeringan ancam Sumba Barat gagal panen

Legislator Papua sebut cukup Suku Yerisiam kehilangan hutan sagu

Meski ia menilai beras yang ia pantau melalui Pusat Informasi Harga Pangan Strategis nasional, cenderung berada di kisaran Rp 11,900 per kilogram atau stabil tinggi sejak April 2020. Namun Galuh menyarankan agar menjaga kestabilan harga beras di semua wilayah di Indonesia, termasuk pendistribusian beras oleh Bulog harus dikelola dengan baik agar mampu menjangkau seluruh wilayah.

Ia berpendapat bahwa pendistribusian yang merata bertujuan untuk menghindari terjadinya ketimpangan harga antara harga beras di wilayah yang surplus produksi berasnya dan wilayah yang produksinya mengalami defisit.

“Perhitungan pun harus dilakukan secara berkala, dengan mempertimbangkan kejadian-kejadian yang tidak dapat diprediksi, jangan sampai harga beras nanti terus berada dalam level tinggi atau perlahan naik,” kata Galuh menjelaskan.

Direktur Utama Perum Bulog, Budi Waseso, mengatakan Indonesia tidak memerlukan opsi impor mengingat stok beras yang diperkirakan mencukupi untuk kebutuhan nasional hingga akhir Desember 2020.

Budi menyebut  persediaan beras yang dikelola Bulog saat ini mencapai 1,4 juta ton atau masih terjaga dengan stok cadangan beras pemerintah (CBP) yang harus dikelola Bulog di kisaran 1-1,5 juta ton.

“Sampai hari ini kita masih punya (stok beras) 1,4 juta ton, ini juga masih berlangsung penyerapan, jadi ini yang meyakinkan saya bahwa beras kita ini cukup untuk kegiatan sampai bulan Desember,” kata Budi Waseso.

Menurut dia, saat ini Bulog masih memaksimalkan penyerapan produksi gabah petani dari panen musim pertama yang berlangsung April sampai Juni. (*)

Editor : Edi Faisol

Related posts