Penegakan kebijakan tidak tegas, perbatasan PNG rentan akan varian Delta

Perbatasan PNG rentan akan penyebaran varian Delta . - Matt Cannon/ John's Ambulance/ PNG

Papua No.1 News Portal | Jubi

Vanimo, Jubi – Seorang komandan polisi Papua Nugini telah memberikan peringatan tentang potensi varian Delta menyebar ke negara itu melalui perbatasannya dengan Indonesia.

PNG telah melaporkan kasus positif pertama dari virus corona varian Delta akhir pekan lalu, seorang pria yang merupakan kapten kapal dan datang dari Indonesia.

Read More

Tetapi polisi di Provinsi Sepik Barat PNG juga khawatir bahwa varian Delta akan menyebar dari Provinsi Papua, tetangga di Indonesia.

Komandan Kepolisian Provinsi, Moses Ibsagi, mengungkapkan kepada ABC bahwa setiap hari orang-orang melintasi perbatasan secara ilegal.

“Negara ini sangat luas, sangat besar, sehingga sulit untuk memantau semuanya. Perbatasan itu buka setiap saat.”

“Ketika PNG melaporkan kasus Covid-19 pertama kali tahun lalu, pemerintah telah menerapkan larangan yang tegas,” katanya menggunakan tok pisin, salah satu dari tiga bahasa resmi PNG.

Dia mengatakan bahwa orang-orang menjadi lengah terhadap risiko virus itu.

“Orang-orang tidak bisa melintasi perbatasan, tetapi seiring berjalannya waktu, orang-orang melihat virus itu sebagai virus biasa dan mereka tidak takut akan hal itu. Jadi banyak orang datang dan pergi melintasi perbatasan, terutama dari sisi PNG, mereka memiliki kebun atau kerabat di sisi lain, mereka lalu bolak-balik,” tuturnya.

Perbatasan PNG dan Indonesia membentang lebih dari 800 kilometer melintasi medan yang terjal, dan Komandan Ibsagi mengatakan polisi tidak memiliki sumber daya yang memadai untuk mengawasi setiap pergerakan.

“Di sini, di Sepik Barat, itu sangat sulit. Kami tidak memiliki dukungan untuk membantu kami menegakkan hukum dan kebijakan-kebijakan Covid-19 di daerah perbatasan dengan tegas.”

“Tidak seperti di Port Moresby atau pusat-pusat kota lainnya yang ada penerbangan terjadwal yang datang pada waktu tertentu dan mereka dapat memantau penerbangan, bagi kami, perbatasan itu buka setiap saat.”

Tenaga-tenaga medis juga memiliki keprihatinan yang serupa. Salah satunya, dr. Mary Bagita, mengepalai Departemen Obstetri dan Ginekologi di rumah sakit terbesar di PNG, Port Moresby General Hospital.

Dia menekankan bahwa menjaga perbatasan itu merupakan masalah yang harus diperhatikan.

“Saat ini, atau sebelumnya, atau setelah ini, pemerintah seharusnya memperkuat penjagaan perbatasan. Ada begitu banyak persoalan, dari segi staf, dari segi infrastruktur.”

“Di perbatasan dengan Indonesia, orang-orang bukan hanya menggunakan jalan darat untuk melintasi perbatasan, tetapi orang yang datang dengan perahu,” jelas dr. Bagita. (Pacific Beat)

 

Editor: Kristianto Galuwo

Related posts