Papua No. 1 News Portal | Jubi
Auckland, Jubi – Pencari suaka asal Iran yang ditahan di Pulau Manus, Papua Nugini, di bawah hukum suaka Australia, telah memenangkan hadiah sastra yang paling berharga di Australia atas sebuah buku yang, menurut laporan France 24 / AFP, dituliskan menggunakan aplikasi pesan daring, WhatsApp.
Behrouz Boochani yang berasal dari Suku Kurdi, telah ditahan di Pulau Manus PNG sejak tahun 2013, dianugerahi penghargaan bidang sastra, Victorian Prize for Literature, Kamis kemarin (31/1/2019), menurut pernyataan di situs web pemerintah negara bagian Victoria.
Wartawan dan pembuat film itu diberikan hadiah sebesar AU$ 100.000 (NZ $ 106.000) untuk bukunya, No Friend But the Mountains: Writing from Manus Prison. Ia juga menerima hadiah tambahan AU$ 25.000 setelah itu karena juga memenangkan kategori non-fiksi.
“Penghargaan (Boochani) diterima oleh penerjemah bukunya, Omid Tofighian, yang bekerja bersama-sama dengan Boochani selama lima tahun untuk menghidupkan kisah-kisah itu,” kata situs web tersebut.
Media melaporkan bahwa Boochani menulis karya itu di teleponnya, dan mengirimkannya ke Tofighian sedikit demi sedikit melalui pesan teks. Hal ini ia lakukan karena dia merasa tidak aman di kamp penahanannya saat itu, yang sudah ditutup tahun lalu setelah putusan pengadilan setempat dan mereka dipindahkan ke tempat lain di pulau itu.
Buku Boochani mengalahkan 27 karya terpilih lainnya yang diterbitkan tahun lalu di Australia, untuk memenangkan hadiah utama.
Selama bertahun-tahun Canberra telah menahan pencari suaka yang mencoba memasuki negara itu dengan kapal ke Pulau Manus atau Nauru di Pasifik untuk diproses. Kebijakan keras itu dimaksudkan untuk mencegah pencari suaka memulai perjalanan laut yang berbahaya, tetapi PBB dan kelompok HAM lainnya telah mengkritik kondisi kamp dan waktu penahanan yang terlalu lama.
Sementara itu, RNZ International melaporkan bahwa, menurut Pastor Clement Taulam di Provinsi Manus, penduduk setempat Pulau Manus ingin pengungsi yang ditahan di sana untuk pergi, meskipun kepergian ini akan menyebabkan hilangnya lapangan pekerjaan.
Clement Taulam menerangkan keuskupannya telah melakukan apa yang bisa mereka lakukan untuk membantu para pengungsi, baik Kristen maupun Muslim, tetapi dia mengakui Papua Nugini tidak diperlengkapi dengan kemampuan untuk menyediakan perawatan kesehatan yang dibutuhkan.
Penyakit kejiwaan dilaporkan endemik di antara pengungsi di Pulau Manus dengan upaya bunuh diri dan self harm terjadi setiap hari. “Kesejahteraan mereka sangat penting.” (Asia Pacific Report)
Reporter : Elisabeth C. Giay
Editor : Kristianto Galuwo
