Pemuda Arfak pendiri 8 rumah baca berbasis kampung

Lamek Dowansiba, literator muda Arfak pemilik delapan rumah baca di Papua Barat – Jubi/Dok. Lamek Dowansiba
Lamek Dowansiba, literator muda Arfak pemilik delapan rumah baca di Papua Barat – Jubi/Dok. Lamek Dowansiba

Papua No. 1 News Portal | Jubi

Meski berlatar belakang pendidikan diploma pariwisata, Lamek Dowansiba mendirikan delapan rumah baca untuk anak-anak di kampung di Papua Barat. Agar orang asli Papua tidak ketinggalan di bidang literasi.

Read More

Langkah maju telah ditunjukkan Lamek Dowansiba, pemuda suku Arfak di Manokwari, karena dalam setahun telah membuka delapan rumah baca di empat kabupaten di Papua Barat.

Dowansiba menuturkan upaya meningkatkan minat baca dan pemberantasan melek huruf bagi anak-anak Papua, khususnya di wilayah Papua Barat, bukan semata tanggung jawab pemerintah melalui Dinas Pendidikan dan lembaga-lembaga pendidikan swasta lewat pendidikan formal.

“Tetapi tanggung jawab moral semua pihak, khususnya anak-anak Papua yang punya bekal ilmu dan impian besar bagi penyelamatan generasinya,” ujarnya kepada Jubi, Selasa, 3 Maret 2020.

Ia memulai di lingkungan tempat tinggalnya di Kampung Masiepi, Distrik Manokwari Selatan, Kabupaten Manokwari pada Mei 2019. Dowansiba tergerak membuka satu rumah baca yang diberi nama ‘Tuh Tebej’ atau Rumah Baca Bintang (dalam bahasa Indonesia). Tuh Tebej merupakan bahasa daerah suku Sough, salah satu sub suku besar Arfak di Papua Barat.

“Saya mulai dari Kampung Masiepi, kemudian di Kampung Nuni, Mandopi, dan Urondopi di Distrik Manokwari Utara, selanjutnya di Kampung Tanah Merah di Distrik Warmare dan tiga lainnya di Kabupaten Mansel, Bintuni, dan Sorong,” katanya.

Dowansiba menilai ada kesempatan yang hilang (lost opurtunity) ketika anak-anak Papua hanya ditempa lewat pedidikan formal di sekolah dengan kurikulum dan waktu yang terjadwal.

Pada pendidikan formal anak-anak Papua diwajibkan menerima pelajaran membaca atau mengenal huruf hingga fasih membaca, namun kondisi itu merupakan literasi terapan.

Sementara, anak-anak asli Papua masih berada pada posisi literasi dasar atau mengenal huruf. Agar kesempatan itu tidak hilang, maka di lingkungan masyarakat (di luar jam sekolah), anak-anak yang erat dengan bahasa ibu atau bahasa daerah bisa diberi ruang dan waktu untuk belajar mengenal huruf (literasi dasar) lewat rumah baca bentukannya.

“Saya termotivasi karena pernah sekolah di pedalaman, sulit peroleh akses buku bacaan dan buku mata pelajaran, inilah yang mendasari saya untuk bertekad dalam gerakan literasi,” katanya.

Tekad dalam gerakan literasi yang digeluti Dowansiba lebih fokus ke daerah-daerah terpencil yang lingkungan anak-anaknya belum tersentuh dunia teknologi, seperti penggunaan telepon pintar (gadget) atau fasilitas internet.

“Rumah baca yang saya buka saat ini semuanya berbasis kampung, karena bagi saya ada banyak anak di kampung-kampung yang hari ini tidak mendapat akses buku, apalagi mengenal internet dan fasilitas telepon pintar,” katanya.

Melalui gerakan literasi yang dibangunnya Dowansiba berharap anak-anak di kampung bisa terbantu mengenal huruf sebagai literasi dasar, serta memiliki referensi, karena buku merupakan salah satu sarana intelektual.

Alasan lain dalam gerakan literasi yang dijalankan Dowansiba, saat ini pemerintah belum punya satu konsep paten untuk mendorong kemajuan pendidikan di Papua Barat.

Menurutnya pemerinta selalu melihat pendidikan dari ruang lingkup yang terbatas, yaitu pada pendidikan formal diikuti kebijakan dan pembiayaannya, sementara nonformal terkadang dikesampingkan.

“Gerakan literasi ini untuk membantu percepatan pembangunan SDM di Papua Barat sesuai dengan prolog semangat 45 untuk mencerdaskan kehidupan bangsa,” ujarnya.

Dia menegaskan bahwa gerakan literasi yang dijalankannya bertolak belakang dengan ilmu dan titel yang disandang saat ini. Namun, melalui pengalaman organisasi yang digelutinya menjadi pengalaman tambahan untuk terus berkarya di dunia literasi.

Hingga saat ini ribuan buku telah ia didistribusikan ke delapan rumah baca bentukannya. Mulai dari buku-buku mata pelajaran hingga buku bacaan berupa komik dan buku-buku rohani. Buku-buku tersebut diperoleh dari kenalan dan ada pula dari donatur buku rohani.

“Tahun ini kami dapat donasi buku dari Yayasan One Hope sebanyak 191 paket buku bacaan rohani,” ujarnya.

Tenaga pengajar yang dilibatkan dalam gerakan literasi, kata Dowansiba, adalah sukarelawan yang ada di kampung-kampung tempat dibukanya rumah baca tersebut.

“Ada mahasiswa, guru, bahkan ada polisi anggota Bhabinkamtibmas yang terlibat sebagai pengajar dalam gerakan literasi ini,” ujarnya.

Lamek Dowansiba lahir Minyambouw, Kabupaten Pegunungan Arfak,  20 Mei 1991 adalah lulusan D3 Pariwisata di Akademi Pariwisata Petrus Kafiar, Kabupaten Biak Numfor, Papua.

Ia pernah menjadi ketua cabang Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia (GMNI) Manokwari periode 2013/2015 dan wakil sekertaris DPD KNPI Papua Barat periode 2017/2022.

Aktivitas di Rumah Baca Bintang di kampung Masiepi di Manokwari yang didirikan Lamek Dowansiba — Jubi/Dok. Lamek Dowansiba

David Pasaribu, literator senior dan pendiri Komunitas Suka Membaca (KSM) di Manokwari, mengapresiasi usaha Lamek Dowansiba.

“Harapan saya, seturut dengan tujuan pendidikan yaitu untuk membebaskan manusia, maka lewat gerakan literasi, terutama dipelopori literator-literator muda OAP (Orang Asli Papua), diharapkan anak-anak Papua dapat mengenal dan membebaskan dirinya,” katanya.

Ia berharap lewat pendidikan nonformal kegiatan tersebut mampu mengakomodasi kultur Orang Papua dan ketika pendidikan formal kurang mampu mengukuhkan jati diri dan kultur Orang Papua. (*)

Editor: Syofiardi

Related posts