Pemerintah dan PTFI rencanakan bangunan smelter, nasib 8.300 karyawan moker diabaikan

Papua
Demo Eks Karyawan Freeport, Mahasiswa dan Rakyat Papua ke gedung DPRP, Selasa (21/8/2018) - Jubi. Dok

Papua No.1 News Portal | Jubi

Jayapura, Jubi – Anggota komisi pemerintahan, politik, hukum dan hak asasi manusia (HAM) DPR Papua, Laurenzus Kadepa menyatakan, kini pemerintah dan manajemen PT Freeport Indonesia (PTFI) sedang membangun smelter di Gresik, Jawa Timur.

Pembangunan pemurnian hasil tambang emas dan tembaga PT Freeport itu, dilakukan saat 8.300 karyawan PT Freeport yang diberhentikan secara sepihak sejak beberapa tahu lalu, berjuang untuk mendapat keadilan demi kepastian nasib mereka.

Read More

Menurutnya, hingga kini pemerintah dan manajemen perusahaan mengabaikan nasib ribuan karyawan PTFI, kontraktor, dan privatisasi yang diberhentikan sepihak, lantaran melakukan mogok kerja atau moker. 

Aksi ketika itu, sebagai respons terhadap wacana manajemen perusahaan yang akan merumahkan pekerja dengan alasan efisiensi.

“Sejak 2017 saya mendampingi karyawan moker ini mencari keadilan dan kepastian nasib mereka. Saya tegaskan kepada pemerintah dan manajemen PT Freeport, sudah ada banyak karyawan moker dan keluarganya yang meninggal selama memperjuangkan kepastian nasibnya. Namun mereka hingga kini diabaikan,” kata Kadepa kepada Jubi, Kamis (14/10/2021).

Katanya, pembangunan smelter di Gresik Jawa Timur, yang disebut akan membutuhkan sekitar 40 orang pekerja, hanya akan menambah luka hati para karyawan moker. 

Sebab, disaat mereka berjuang mencari keadilan, manajemen PT Freeport akan merekrut puluhan ribu orang untuk pekerjakan di smelter. 

“Karyawan moker akan makin sakit hati nanti. Pemerintah dan manajemen PT Freeport jangan tutup mata terhadap 8.300 karyawan moker ini,” ucapnya.

Ia mendesak pemerintah dan manajemen PT Freeport mempekerjakan kembali para karyawan moker. Mengenai apakah nanti mereka akan dipindahkan untuk bekerja di smelter atau tempat lain, itu urusan belakangan.

“Inikan kesannya akan melukai para karyawan moker. Mereka diberhentikan sepihak, pemerintah bangun smelter di Jawa Timur dan akan rekrut sampai 40 ribu pekerja. Inikan kesannya tidak adil dan akan makin melukai para karyawan moker,” ujarnya.

Bagi Laurenzus Kadepa, pembangunan smelter merupakan kebijakan pemerintah. Ia hanya ingin mengingatkan pemerintah dan PT Freeport, jangan abaikan 8.300 karyawan moker.

“Karena mereka selama puluhan tahun telah berkontribusi kepada perusahaan dan negara, sebab mereka juga bayar pajak. Kini semua pihak seakan diam,” katanya.

Sebelumnya, Presiden Joko Widodo (Jokowi) meresmikan groundbreaking pembangunan smelter PT Freeport Indonesia (PTFI) di Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) Gresik pada Selasa (12/10/2021).

Peresmian ini menandai dimulainya tahap konstruksi smelter, setelah sejumlah tahapan dilakukan.

Proyek ini yang dibangun di atas lahan seluas 100 hektar ini, direncanakan menjadi smelter single line terbesar di dunia dengan kapasitas 1,7 juta ton konsentrat setiap tahun, dengan nilai investasi proyek mencapai Rp 42 triliun.

Presiden Jokowi dalam sambutannya mengatakan, pembangunan smelter di dalam negeri akan memperkuat hilirisasi industri. 

Ia berharap kehadiran PT Freeport Indonesia di Kawasan Ekonomi Khusus Gresik akan menjadi daya tarik bagi industri lain. Khususnya industri turunan tembaga untuk ikut berinvestasi.

“Ke depannya pemerintah akan terus memberikan dukungan penuh demi meningkatkan iklim investasi,” kata Jokowi ketika itu.

Presiden Direktur PTFI, Tony Wenas mengatakan, kewajiban pembangunan smelter tertuang dalam Izin Usaha Pertambangan Khusus (IUPK) PTFI. 

“Ini menjadi bagian tak terpisahkan dari izin keberlanjutan operasi PTFI hingga 2041,” ujar Tony Wenas. (*)

Editor: Edho Sinaga

Related posts