Papua No. 1 News Portal | Jubi ,
Manila, Jubi-Sejumlah wakil rakyat dari partai oposisi Filipina mengecam Presiden Rodrigo Duterte terkait pembunuhan dua wali kota yang terjadi berturut-turut pada awal pekan ini. Tercatat dua wali kota masing-masing Wali Kota Tanauan, Antonio Halili, dan Wali Kota Nueva Ecija, Ferdinand Bote, ditembak hingga meninggal dalam waktu sepekan .
“Kita harus mencari solusi soal ini karena meningkatnya tindak kekerasan di negara ini sudah mengkhawatirkan,” kata Senator Paolo Benigno Aquino IV, Rabu, (4/7/2018).
Dalam kecamannya ia mengkritik berkembangnya budaya kekerasan di Filipina dan mewanti-wanti warga agar tidak terpengaruh. Aquino juga meminta pemerintah menggelar public hearing untuk mengevaluasi merebaknya tindak kekerasan ini.
Menurut dia, nurani publik pasti terganggu dengan tewasnya pejabat lokal, warga biasa hingga pendeta, yang kerap terjadi.
Sedangkan Senator Aquilino Pimentel III, yang juga presiden dari partai oposisi PDP-Labab, mengutuk tindakan pembunuhan itu sebagai tindakan pengecut. Dia meminta polisi segera mengungkap pelaku pembunuhan dan memberi keadilan bagi keluarga korban.
“Kita semua merasa khawatir atas eskalasi tindak kekerasan yang terjadi di seluruh penjuru negeri,” kata Aquilino, dalam pernyataan persnya.
Wakil Rakyat Gary Alejano menuding terjadinya dua kasus pembunuhan terhadap Wali Kota itu menunjukkan adanya iklim impunitas atau pelaku kriminal menjadi kebal hukum. Menurut Alejano, Duterte menciptakan iklim impunitas ini sendiri.
Menanggapi tudingan ini, juru bicara Istana Malacanang, Harry Roque, membantah munculnya iklim impunitas terhadap para pelaku
kriminalitas. Menurut Roque, tindakan pembunuhan terhadap dua wali kota ini merupakan upaya untuk menggerus kepercayaan publik terhadap Presiden Duterte, yang platform utamanya adalah pengelolaan pemerintahan yang baik dan memberantas kejahatan. (*)
