Pembelotan terhadap Wakil PM Tonga sebabkan kemenangan PM

Pōhiva Tu’i’onetoa. - Kaniva News/ Kalino Latu

Papua No.1 News Portal | Jubi

Analisis oleh Kalino Latu

Read More

Apakah mantan Wakil Perdana Menteri Tonga, Sione Vuna Fā’otusia, dikhianati oleh teman-teman dekatnya perwakilan dari kaum bangsawan dan anggota kabinet terpilih saat ia masih menjadi Wakil Perdana Menteri?

Apakah dia dijebak oleh beberapa anggota kabinet karena sifatnya yang vokal? Di hadapan parlemen ia dilaporkan tidak dapat hadir karena sakit saat ia absen dari pemungutan suara terkait mosi tidak percaya Selasa kemarin (12/1/2021).

Apakah pada detik-detik terakhir ia sadar bahwa tidak ada seorang pun dari kubu pemerintah dan kalangan perwakilan bangsawan Tonga yang akan menyeberang dan bergabung dengannya dan partai PTOA (Partai Demokrat) telah membawanya ke situasi di mana dia merasa sakit hati pada sore itu?

Akan lebih baik jika, sejak awalnya, Fā’otusia telah meminta kepada mereka yang, katanya, berjanji untuk mendukungnya dalam upaya menggulingkan Tu’i’onetoa, agar semuanya mengundurkan diri bersamanya sebagai bukti dukungan mereka.

Perdana Menteri Tu’i’onetoa berhasil mempertahankan kepemimpinannya setelah mengalahkan mosi tidak percaya itu dengan suara 13-9.

Saat Fā’otusia diwawancarai oleh Kaniva News menyusul pemungutan suara itu, dia menegaskan ada anggota-anggota kabinet yang mendukung kelompoknya dan akan mendukungnya dalam mosi itu.

Dia mengatakan para menteri kabinet ini tidak setuju dengan apa yang yang telah dilakukan Perdana Menteri Pōhiva Tu’i’onetoa sejauh ini dan mantan menteri kabinet yang terkenal hina, ‘Etuate Lavulavu, pada Tonga.

Tidak pernah ada pemerintah di Tonga yang digulingkan dengan mosi tidak percaya

“Saya juga tahu bahwa begitu para perwakilan keluarga bangsawan di Parlemen tahu bahwa raja tidak senang dengan pemerintahan PM Tu’i’onetoa dan Lavulavu, mereka akan memilih untuk mendukung kita!” ungkapnya. “Saya percaya bahwa setelah mosi tidak percaya itu diperdebatkan, hanya PM Tu’i’onetoa dan Akosita Lavulavu yang masih akan berada di sisi mereka.”

Komentar dari Fā’otusia ini bukanlah hal yang baru bagi Kaniva News. Kami telah mendengar klaim optimis yang sama sebelum pemungutan suara untuk mosi tidak percaya sebelumnya, tetapi tidak ada pemerintah Tonga yang dikalahkan oleh mosi tidak percaya sejak undang-undang yang mengizinkannya dsahkan sebagai bagian dari reformasi politik pada 2010.

Kaniva News memiliki peran penting untuk meningkatkan kesadaran masyarakat dan mendorong debat yang independen dan sehat dalam berbagai isu penting, termasuk politik. Jadi, setelah mendengarkan komentar Fā’otusia, kami menulis artikel analisis lainnya. Dalam analisis itu kami menegaskan bahwa PTOA perlu lebih cerdik dalam melakukan bernegosiasi jika mereka ingin memenangkan kembali beberapa MP independen. Salah satu jalan yang disarankan adalah bagi PTOA dan Fā’otusia untuk menyerahkan jabatan perdana menteri dan wakilnya kepada beberapa MP Independen yang berada di pihak PM Tu’i’onetoa.

Jika mereka melakukan itu, kemungkinan besar akan ada dua MP independen yang bergabung dengan kubunya.

Sejak awal tampaknya tidak ada dukungan yang cukup

PM Tu’i’onetoa juga pasti telah berjuang sebaik mungkin dalam memberikan penawaran terbaik kepada para MP independen. Namun, tampaknya PM Tu’ionetoa tidak bisa mundur dan mengizinkan salah satu MP independennya menjadi Perdana Menteri, fakta yang seharusnya bisa menguntungkan sisi PTOA (‘Partai Demokrat’ di Tonga).

Kami juga sudah menebak bahwa anggota parlemen perwakilan keluarga bangsawan tidak akan menyeberang dan bergabung dengan PTOA. Dan ternyata prediksi kami benar. Minggu lalu, kami menerbitkan artikel lainnya, dimana dalam artikel itu kami mengatakan PTOA hanya memusatkan usaha mereka untuk meyakinkan tiga anggota kabinet independen secara khusus, agar ketiganya dapat bergabung dalam upaya PTOA untuk menggulingkan perdana menteri. Kami menulis itu setelah mewawancarai sumber terpercaya yang sangat dekat dengan PTOA dan perwakilan keluarga bangsawan. Sumber tersebut menegaskan bahwa perwakilan bangsawan tidak akan mendukung Fā’otusia dan PTOA.

Jelas sekali sejak saat itu bahwa PTOA akan kesulitan mengumpulkan dukungan yang mereka perlukan untuk mengalahkan PM.

Beberapa alasan mengapa sulit sekali bagi perwakilan bangsawan manapun untuk bergabung dengannya adalah karena prinsip demokrasi PTOA dalam mereformasi sistem politik Tonga yang memungkinkan warga negara Tonga untuk memerintah dan membuat keputusan tentang pembayaran pajak mereka.

Raja dan kaum bangsawan tidak menyukai demokrasi karena itu mengurangi kekuasaan dan privilese-privilese tradisional mereka.

Perwakilan kaum bangsawan mendukung kepentingan kerajaan Tonga

Tidak mungkin para anggota parlemen dari keluarga bangsawan akan berpihak pada partai bernilai demokrasi, karena itu akan menjadi tamparan bagi Raja Tupou VI, yang memiliki wewenang untuk menunjukkan siapa yang menjadi perwakilan dari keluarga bangsawan untuk di parlemen Tonga.

Anggota-anggota kabinet lainnya telah berkomitmen dengan PM Tu’i’onetoa berdasarkan perjanjian yang mengikat dan manifesto politik. Mereka merasa aman dan terjamin secara politik di tangannya. Daerah-daerah pemilihan mereka mendapatkan keuntungan besar dari kebijakan PM Tu’i’onetoa untuk mengutamakan sahabat dan sekutunya dalam memberikan pekerjaan dan proyek.

Di sisi lain, pihak PTOA telah dituduh tidak terorganisasi dan tidak terdaftar secara hukum sebagai sebuah badan hukum. Ini memungkinkan anggota partai yang lebih senior untuk menguasai partai itu dan memecat anggota parlemen yang tidak sepikiran dengan mereka. Ini sudah pernah menyebabkan perselisihan internal partai tersebut.

Pada akhirnya, sulit untuk meyakinkan para MP independen di pemerintahan Tu’i’onetoa, yang hidup dalam kemewahan, untuk bergabung dengan partai yang tidak dapat menjamin bisa memberikan keuntungan yang sama bagi mereka. (Kaniva Tonga)

Kalina Lotu merupakan pendiri dan editor Kaniva Tonga News.

 

Editor: Kristianto Galuwo

Related posts