Papua No. 1 News Portal | Jubi ,
Jayapura, Jubi – Kepala Dinas Kesehatan Provinsi Papua, drg. Aloysius Giyai meminta kepada pihak aparat keamanan dalam hal ini TNI dan Polri untuk tidak melakukan pengawasan yang berlebihan, ketika petugas kesehatan melakukan pelayanan kesehatan di wilayah pedalaman Papua khususnya di wilayah konflik.
“Ada yang menarik dari pelayanan kesehatan di Kabupaten Nduga lalu. Mereka (tim kesehatan) dilepas saja ke distrik untuk melakukan peyananan kesehatan atau tim kemanusian sesuai dengan profesinya yang dijamin oleh UU internasional. Artinya, jangan ada pihak aparat keamanan yang mendampingi tim kesehatan tersebut dalam melakukan pelayanan,” kata Giyai kepada wartawan, Selasa (15/1/2019) di Jayapura.
Kata Giyai, dengan adanya pihak aparat kemanan dalam misi pelayanan kesehatan tersebut mengakibatkan banyak masyarakat enggan untuk memeriksakan dirinya ke petugas kesehatan.
“Ada kecurigaan dari pihak masyarakat terhadap tim medis yang dikirim tersebut, akibatnya pelayanan kesehatan tidak maksimal,” ujarnya.
Namun dirinya tidak menyalahkan pihak TNI dan Polri, karena para petugas keamanan tersebut melakukan prosedur tetap (protap) dari para pimpinannya untuk melakukan pengawasan dan pengamanan terhadap para petugas medis tersebut dari gangguan atau ancaman dari kelompok-kelompok tertentu.
“Itu memang benar, tapi saya berharap pihak aparat keamanan tersebut bisa menjaga jarak. Ini harapan saya sebagai kepala dinas kesehatan di provinsi Papua,” tegas Giyai.
Sebelumnya, anggota tim medis yang tergabung dalam tim kemanusiaan provinsi Papua, Elianus Tabuni mengaku jika hambatan yang dialami selama pelayanan selain soal letak geografis yang sulit dan cuaca yang dingin, masyarakat yang datang berobat sempat tidak mempercayai mereka yang datang.
“Mungkin karena masyarakat masih trauma. Sehingga mereka sempat meragukan kami yang datang ini apa benar ingin melakukan pelayanan kesehatan atau tidak,” kata Tabuni.
Dikatakan, tim yang diturunkan oleh gubenur Papua untuk melakukan pelayanan kesehatan pasca penembakan di Kabupaten Nduga berjumlan 16 orang yang terdiri dari dokter spesialis, dokter umum, perawat kesehatan ditambah dengan tim dari dinas kesehatan Kabupaten Nduga.
Pelayanan selama tiga hari itu hanya di tiga titik di Mbua, Dal dan Mbulmu Yalma ditambah satu tempat di distrik Ilekma, Jayawijaya karena banyak masyarakat yang mengungsi ke Wamena. (*)
