Papua No. 1 News Portal | Jubi ,
Merdeka! Merdeka!
Yel-yel ini diteriakkan sejumlah pemerhati lingkungan, mahasiswa, dan simpatisan. Suara mereka menggema berbarengan dengan lagu-lagu penyemangat.
Matahari sudah menyinari jalan sepanjang perjalanan menuju hutan bakau (mangrove) Hanyaan, Entrop, Distrik Jayapura Selatan, Kota Jayapura. Cahayanya berpendar dari balik daun-daun pepohonan bakau, Jumat pagi, 17 Agustus 2018.
Di ujung pelabuhan delapan perahu mulai menepi. Diparkir oleh Forum Peduli Port Numbay Green (FPPNG). Menanti upacara bendera nan unik ini.
Mereka rupanya mau menggelar upacara bendera di atas hutan bakau untuk memperingati hari ulang tahun ke-73 kemerdekaan RI. Pukul 9 pagi, saya tiba di pangkalan hutan mangrove ini.
Sebelum upacara dimulai, mereka memanjatkan doa bersama. Khusyuk!
Koordinator acara Abdel Gamel Naser mengatakan pihaknya mempersiapkan kegiatan ini selama kurang lebih 20 hari.
“Perahu rakitan kami pertama dicuri. Pendayungnya juga. Namun setelah upacara bendera kami temukan kembali,” kata Gamel.
Upacara ini dilakukan di dalam hutan mangrove dengan semua peserta berada di atas rakit. Menggunakan 8 rakit dengan 17 dayung dan 73 bendera merah putih. Kegiatan yang diikuti 45 peserta tersebut berlangsung khidmat.
Dengan semangat, peserta upacara terlebih dahulu mendayung dari titik kumpul di rumah bakau. Lalu menuju lokasi.
Selain upacara bendera para peserta membacakan puisi-puisi bertema kemerdekaan. Dan mengenang pahlawan nasional dari Papua, seperti, Frans Kaisepo, Johanes Abraham Dimara, Silas Papare, dan Marten Indey.
“Upacara digelar di atas air, dengan menggunakan rakit yang dibuat dari bahan bekas,” kata Gamel.
Usai upacara, peserta menggelar aksi bersih sampah. Mereka memungut sampah plastik yang tersangkut di hutan mangrove.
Menurut Gamel, pihaknya sendiri terpaksa membatasi peserta upacara untuk tetap menjaga kondisi hutan adat Hanyaan.
“Setelah kegiatan juga teman-teman ikut mengumpulkan sampah plastik di hutan mangrove,” kata jurnalis harian Cenderawasih Pos ini.
Ketua Forum Peduli Port Numbay Green (FPPNG), Fredy Wanda, mengatakan upacara ini sengaja digelar di hutan mangrove untuk menyosialisasikan isu lingkungan. Juga menyosialisasikan pentingnya benteng pesisir itu bagi tiga kampung: Tobati, Engros, dan Nafri.
“Anak muda di kota Jayapura harus memahami ini. Hutan hangrove ibarat dapur bagi mereka,” kata Wanda.
Hutan mangrove Hanyaan berada di kawasan Teluk Youtefa, yang ditetapkan sebagai taman wisata alam tahun 1996 berdasarkan Keputusan Menteri Kehutanan (Menhut) Nomor: 714/Kpts-II/1996 dengan luas 1.675 hektare.
Namun, seiring perkembangan kota, kawasan ini semakin berkurang. Bahkan hingga beberapa tahun terakhir hutan bakaunya hanya seluas kira-kira 233,12 hektare, dengan tingkat akurasi 85,45 persen.
Hutan bakau ini, menurut masyarakat setempat juga menjadi hutan perempuan. Namun hutan perempuan terus berkurang. Padahal dulu masyarakat mencari ikan dan bia di hutan mangrove tanpa pakaian. Kini mereka harus lebih protek. Harus menggunakan pakaian.
Mangrove juga menjadi pertahanan terbaik dari abrasi. Sayangnya hingga kini potensi hutan mangrove masih dibiarkan begitu saja meski sejatinya bisa dipakai sebagai tempat belajar, bird watching, dan tumbuh kembang ikan dan kepiting.
Wanda pun menyampaikan apresiasinya atas upaya dan kerja keras anak-anak muda yang tergabung dalam berbagai komunitas di Jayapura, untuk melaksanakan upacara bendera di atas hutan bakau ini.
Menurutnya, ini ide unik dan harus diikuti anak-anak muda lainnya. Harus belajar mengenal lingkungannya. Biarkan hutan bakau menjadi habitat kepiting, bia, dan ikan-ikan. Jangan biarkan dirusak begitu saja dengan membuang sampah, menimbun, atau merusaknya dengan dalih banyak macam.
“Banyak pihak juga yang merusak, namun kami tetap merawatnya. Mangrove ini penting bagi kelangsungan hidup masyarakat di tiga kampung sini,” katanya.
Wanda bahkan mengajak siapa pun di Kota Jayapura dan Papua pada umumnya, untuk berpartisipasi dalam upaya-upaya penyelamatan hutan dan habitatnya di sekitar masyarakat Port Numbay.
“Aksi penyelamatan hutan yang kami lakukan ini membantu masyarakat asli. Tapi juga sebagai kontribusi kami kepada masyarakat,” katanya.
Seorang mahasiswa Fakultas Ilmu-Ilmu Sosial dan Ilmu Poltik (FISIP) Universitas Cenderawasih (Uncen), Ketsya, bertugas sebagai pengerek bendera. Ia pun menyampaikan rasa bangga dan senangnya, karena turut berpartisipasi mengikuti upacara bendera sekaligus menyosialisasikan kelestarian hutan bakau.
“Ini pertama kali kami berdiri menjadi penggerek dengan situasi dan kondisi yang tak mudah. Tapi kami senang karena semua kompak,” kata Ketsya. (*)
