Mempertahankan lahan pertanian di tengah pesatnya pembangunan

papua-lahan-pertanian-muara-tami
Lahan pertanian warga di Distrik Muara Tami, Kota Jayapura, Papua - Jubi/Ramah

Papua No. 1 News Portal | Jubi

Jayapura, Jubi – Kota Jayapura sebagai kota perdagangan dan jasa menarik minat warga untuk datang mengais rejeki. Seiring makin bertambahnya jumlah penduduk di ibukota Provinsi Papua ini, makin luas lahan yang beralih fungsi menjadi pemukiman.

Salah satu wilayah di Kota Jayapura, Papua yang saat ini menjadi incaran untuk dijadikan pemukiman penduduk adalah Distrik Muara Tami. Wilayah yang berbatasan dengan negara tetangga, Papua Nugini, ini memiliki potenasi sumber daya alam, luas area, dan letak geografis sebagian besar dataran rendah.

Read More

Distrik Muara Tami sejak awal difokuskan sebagai daerah pertanian yang menghasilkan komoditas seperti umbi-umbian, sayur, beras, dan buah-buahan. Kini perlahan-lahan, wilayah ini beralih fungsi dengan banyak berdirinya bangunan, baik perumahan maupun pusat perbelanjaan. Akibatnya, lahan pertanian di wilayah ini mulai tergerus.

Pemerintah Kota Jayapura terus berupaya mewujudkan kemandirian dan ketahanan pangan, mulai dari pendampingan dan pelatihan kepada petani hingga pemberian sarana dan prasarana produksi guna mendukung kegiatan bercocok tanam.

“Hal ini bertujuan untuk meningkatkan kesejahteraan petani sekaligus meningkatkan perlindungan terhadap kepemilikan lahan serta pemberdayaan petani,” ujar ujar Kepala Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan Kota Jayapura, Jean Hendrik Rollo, di Kantor Wali Kota Jayapura, Selasa (22/9/2020).

Baca juga: Mako Polda Papua akan dibangun di Kampung Koya Koso

Guna mempertahankan lahan pertanian di tengah pesatnya pembangunan, dikatakan Rollo, setidaknya setiap tahun ada satu persen lahan tidur di Kota Jayapura difungsikan menjadi lahan pertanian dengan tujuan memacu volume produksi komoditas pertanian.

“Saya mengimbau kepada para pemilik tanah agar tidak menjual lahan yang sudah ditanami komoditas pertanian agar ketersediaan pangan tetap terjaga. Apalagi jumlah penduduk semakin hari semakin bertambah sehingga kebutuhan pangan pun akan meningkat,” ujar Rollo.

Kepala Distrik Muara Tami, Supriyanto, mengatakan dari total lahan distrik seluas 62.670 sebanyak 80 persen di antaranya tercatat sebagai lahan pertanian pada 2019, yang saat ini sudah semakin menyusut luasnya menjadi 44.779 hektar atau 60 persen di antaranya lahan pertanian pada tahun 2020.

Hal itu berdasarkan data Badan Pusat Statistik Kota Jayapura, pada 2015 luas panenan padi misalnya, dari 1.112 hektar menjadi 667 hektar pada 2017. Begitu juga panen jagung dari 168 hektar menjadi 105 hektar pada periode 2016 dan 2018.

“Jika satu bidang tanah seluas satu hektar digunakan sebagai pembangun rumah, maka harus disiapkan juga luas yang sama untuk lahan pertanian,” ujar Supriyanto.

Meski Distrik Muara Tami didorong menjadi kota baru, dikatakan Supriyanto, pihaknya terus berupaya menyosialisasikan zonasi tata ruang agar tidak terjadi tumpang tindih dan alih fungsi lahan yang tidak terkendali. (*)

Editor: Dewi Wulandari

Related posts