Manokwari menyongsong pesta demokrasi

papua-kominfo-ayo-ke-tps
Ilustrasi protokol kesehatan pencegahan Covid-19 saat Pilkada Serentak 9 Desember nanti – Jubi/Kominfo

Papua No. 1 News Portal | Jubi

Oleh: Fransiskus Xaverius Sie Syufi

Tahun ini dilakukan pemilihan kepala daerah secara serentak di sejumlah kabupaten/kota di Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI). Pemilihan para calon bupati dan wakil bupati yang telah memenuhi syarat dan ketentuan sudah ditetap oleh Komisi Pemilihan Umum (KPU) sebagaimana termuat dalam Undang-Undang Nomor 22 Tahun 2014 Tentang Pemilihan Gubernur, Bupati, dan Walikota. Para bakal calon bupati dan calon wakil bupati harus mempunyai visi-misi yang akan diwujudkan dalam program kerjanya ketika menjabat nanti.

Read More

Kabupaten Manokwari, Papua Barat memiliki dua bakal calon yang akan bertarung dalam pesta demokrasi 9 Desember 2020. Dengan terselenggaranya pesta demokrasi ini pemilih harus lebih jeli dalam menentukan para bakal calon Bupati dan Wakil Bupati Manokwari yang baik, agar dapat membangun dan menjawab keresahan masyarakat; Manokwari yang maju, mandiri, dan bermartabat.

Kota Injil di Papua Barat ini membutuhkan pemimpin yang takut akan Tuhan dan taat terhadap aturan agama yang dianutnya, agar menjadi fondasi dalam menjalankan semua proses dalam masa kepemimpinannya, bukan hanya mempermainkan isu-isu dan membuat banyak janji. Yang jauh lebih penting mereka harus menawarkan konsep pembangunan yang merata untuk memajukan masyarakat.

Dengan penduduk yang majemuk di Manokwari, maka sangat diharapkan kepada para bakal calon pemimpin daerah dan segenap tim suksesnya lebih menjunjung tinggi nilai-nilai etika yang demokratis selama masa kampanye, supaya terhindar dari isu-isu murahan yang tidak berfaedah atau yang memiliki potensi konflik.

Mnukwar (kota lama) memiliki satu suku besar yakni suku Arfak dan kedua bakal calon yang maju merupakan putra-putra Arfak yang sama-sama memiliki potensi dan diutus oleh Tuhan, sehingga diharapkan dapat menghindari politik praktis yang saling mengancam satu sama lain.

Seorang pemimpin harus menjunjung tinggi nilai etika moral untuk mengakomodasi seluruh elemen masyarakat Kota Injil di Papua Barat ini dengan penuh rasa persaudaraan dan tetap menjaga keharmonisan di kota buah-buahan tercinta ini.

Ada sebuah kutipan dari buku “Politik Katolik” yaitu “jika ingin menjadi seorang politikus maka berpolitik yang bermoral dan jika ingin menjadi seorang politik maka berpolitik yang beretika”. Pernyataan ini menjelaskan kepada kita sebagai “pecandu” sekaligus “pengedar” politik bukan hanya untuk para bakal calon bupati dan wakil bupati, melainkan juga untuk semua lapisan masyarakat yang mengikuti pesta demokrasi, harus menjunjung tinggi nilai moral dan etika, baik secara individu, maupun kelompok agar terhindar dari hal-hal yang tidak diinginkan, karena masyarakat yang turut mengambil bagian dalam hak politik hari ini adalah mereka yang mampu memilih dan menentukan seorang pemimpin masa depan Kota Injil.

Filsuf Yunani kuno, Aristoteles, mengatakan manusia adalah Zoon Politikon (makhluk politik). Dia juga menegaskan bahwa lebih baik buta pendidikan, daripada buta politik, karena buta pendidikan terdapat dua hal, yakni tidak bisa membaca dan menulis, sedangkan buta politik diibaratkan anak tikus mati di atas lumbung padi. Maka sangat penting untuk melakukan suatu pencerahan politik kepada masyarakat khalayak, agar dapat memahami politik secara baik, sehingga tidak menyamaratakan politik sebagai suatu kebebasan belaka namum politik merupakan suatu kekuasaan.

Pesta demokrasi ini merupakan pesta rakyat. Rakyat memilih dan menentukan calon pemimpin the best of the best (yang baik dari yang terbaik) sesuai hati nuraninya demi perubahan Manokwari dalam dimensi pengembangan dan pembangunan lima tahun. Untuk itu, rakyat harus menggunakan hak suara secara baik dan benar saat pencoblosan di TPS. Semoga tidak meninggalkan kesan politik yang tidak etis dalam pesta demokrasi tahun ini.

Saya berharap tulisan ini dapat menjadi pegangan untuk memilih di Manokwwari khususnya, dan Papua serta Papua Barat pada umumnya, untuk menentukan pilihan bakal calon bupati dan wakil bupati, yang sesuai dengan ketulusan hati masyarakat. Jangan terpaksa atau terburu-buru, dan yang lebih penting adalah bukan memilih karena calon itu selalu memberikan uang. Namun rakyat harus memilih pemimpin yang mencintai rakyat dan takut akan Tuhan, agar dapat menjalankan roda pemerintahan sesuai dengan amat penderitaan rakyat. Ingat: Vox Populi Vox Dei (suara rakyat adalah suara Tuhan). (*)

Penulis adalah mahasiswa Unipa Manokwari, Papua Barat

Editor: Timoteus Marten

Related posts