Kepak sayap burung-burung Pulau Surga

nuri kepala hitam Papua
Nuri kepala hitam ketika dilepasliarkan di Hutan Adat Kampung Rhepang Muaif, Minggu (17/10/2021) – Jubi/Timoteus Marten

Papua No. 1 News Portal | Jubi

Satu! Dua! Tiga! Aba-aba dikeluarkan. Pintu sangkar diangkat pelan-pelan. Tapi burung-burung itu tak mau keluar. Pintu sangkar berkitar-kitar di atas usai ditarik-tarik.

“Dia malu keluar,” kata salah seorang dari belakang saya berseloroh, ketika menyaksikan burung-burung yang akan dilepaskan ke alamnya.

Read More

Burung-burung itu ada di dalam sangkar cokelat. Di sini ada empat sangkar. Dua di ujung kiri dan kanan lebih besar. Sekira ukuran peti pemilu. Dua di tengah lainnya lebih kecil atau setengah dari dua peti tadi.

Tak lama kemudian kepak sayap cenderawasih menyambar bak kilat. Dia keluar dari sangkar. Terbang rendah di atas ketinggian sekitar satu meter. Lalu mendarat dan bermanuver di antara tripod dan pohon-pohon seukuran lengan.

Dia terus melintas dan akhirnya hilang dari pandangan mata. Aksinya membuat sejumlah mata seakan tak mau berkedip.

Ketangkasannya tadi berlomba-lomba dengan pijaran blitz kamera. Setelah itu tak terlihat lagi. Tapi warnanya masih terekam dalam ruang imajinasi.

Kombinasi dari beberapa warna membuat burung surga ini begitu indah dipandang. Kuning keemasan, cokelat, putih, dan leher hijau zamrud kemilau, serta paruh berwarna abu-abu kebiruan dengan irisan bagian mata kuning. Tubuhnya seukuran merpati atau sekitar 32 sentimeter. Itulah si Paradisaea minor dari genus Paradiseaea.

Setelah si mungil ekor kuning nan menawan itu pergi, tiga sangkar lainnya dibuka bersamaan. Tak butuh waktu lama, kepak sayap sebelas burung beriringan.

Dua di antara sebelas burung ini adalah si putih. Tepatnya kakatua koki (Cacatua galerita) atau dikenal dengan sebutan burung yakob.

Si yakob jatuh terjerembab dan mendarat hingga terbang lagi. Menyusul si mungil berekor kuning tadi. Sedangkan sembilan lainnya adalah kasturi kepala hitam atau Lorius lory.

Dua dari sembilan nuri kepala hitam ini tak langsung terbang. Mereka kompak bertengger di depan sangkar.

“Dia mau difoto dulu!” teriak salah seorang wartawan bergurau, ketika menyaksikan dua nuri yang tampak sedang bermesraan.

Tak lama kemudian sayapnya berkepak-kepak. Lalu terbang di atas ketinggian sekitar 2 meter dari tanah. Bulu-bulu leher dan perutnya yang merah tampak menonjol. Berpadu cantik dengan bulu atasan yang berwarna hitam. Hutan adat Rhepang Muaif pun jadi riuh.

Baca juga: 12 satwa Papua dikembalikan ke hutan Rhepang Muaif

Peraih emas pada PON XX Papua Tahun 2021 cabang karate putra, Claudio F. Nenobesi, terheran-heran, karena baru pertama kali masuk hutan. Padahal dia tinggal di sekitar kawasan Pegunungan Cycloop, tepatnya di kawasan Rindam XVII/Cenderawasih.

Namun hutan adat Rhepang Muaif adalah tempat pertama baginya melihat cenderawasih hidup. Sepanjang hidupnya, Claudio tak pernah melihat cenderawasih. Kalau pun pernah, itu hanya cenderawasih yang diawetkan.

Selama ini Claudio dibesarkan di lingkungan kota dan serba instan. Maka wajah gembira terpancar dari sosoknya ketika berkunjung ke hutan adat Rhepang Muaif dan menyaksikan cenderawasih terbang.

“Puji nama Tuhan juga, karena ini pertama kali saya ke sini dan melihat cenderawasih hidup. Iya,” kata Claudio sumringah.

Biasanya pemuda jangkung ini melihat cenderawasih yang dipajangkan dan sudah diawetkan. Kali ini berbeda. Dia dapat melihat cenderawasih dalam keadaan hidup.

Kesan serupa disampaikan Samice Juvita Kerlin Mou, peraih medali emas pada PON XX dari cabang olahraga karate putri. Perempuan murah senyum dari Kabupaten Keerom ini juga baru pertama kali melihat burung cenderawasih hidup.

Di kampung halamannya di Keerom, yang sebagian besar tanah adatnya dijadikan area transmigrasi itu memang memiliki cendrawasih. Namun dirinya tak pernah melihat langsung burung surga di Bumi Cenderawasih ini.

“Biasanya dengar suara saja. Di saya punya kampung ada tapi dengar suara saja,” ujarnya polos.

Dua atlet ini kompak berpesan agar generasi milenial dan orang-orang Papua menjaga hutan dan alam Papua beserta isinya, termasuk satwa-satwa endemik yang dilindungi seperti burung cenderawasih.

Foto ilustrasi, burung cenderawasih. – Jubi/IST

Sebenarnya cenderawasih dan sebelas burung yang mengepak-ngepak tadi, termasuk dalam daftar satwa yang dilindungi undang-undang. Statusnya juga Least Concern atau risiko rendah dalam IUCN Redlist, dan termasuk appendix II CITES.

Namun, burung-burung itu adalah burung-burung malang. Mereka terbang nun jauh ke Sumatera Utara dari Pulau Surga, Tanah Papua, setelah dijual secara daring oleh oknum-oknum tak bertanggung jawab.

Jejak kepak sayap mereka kemudian terlacak hingga Balai Penegakan Hukum (Gakkum) Maluku-Papua menyita dan mengembalikannya ke alam Papua di hutan adat Kampung Rhepang Muaif, Distrik Nimbokrang, Kabupaten Jayapura, Papua, Minggu siang, 17 Oktober 2021.

Kepala Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam (BBKSDA) Papua, Edward Sembiring berkata, pihaknya mengundang dua peraih emas PON XX Papua, Claudio F. Nenobesi dan Samice Juvita Kerlin Mou untuk menyaksikan pelepasliaran 12 satwa tersebut.

Kehadiran kedua anak muda ini bersama Pengurus Federasi Olahraga KarateDo Indonesia (FORKI) Provinsi Papua, serta sejumlah atlet karate merupakan bentuk apresiasi BBKSDA Papua kepada PB PON XX Papua, sebab pada pembukaan dan penutupan PON tak menggunakan mahkota dan maskot cenderawasih asli.

Kehadiran dua anak muda berprestasi dan kawan-kawan mereka dari pramuka ini, pada kegiatan bertajuk “Living In Harmony With Nature Melestarikan Satwa Liar Milik Negara” itu, juga menjadi pemantik. Dengan begitu, generasi milenial dilibatkan untuk mengkampanyekan perlindungan satwa dilindungi di Tanah Papua.

Data Kementerian Kehutanan dan Lingkungan Hidup menyebutkan, paling banyak atau 400-an ekor satwa yang dikembalikan ke habitatnya, berasal dari Papua. Krisman Kopadang, yang mewakili Direktur Konservasi Keanekaragaman Hayati mengatakan, Kementerian LHK berupaya mempertahankan satwa liar, dalam hal ini burung di Papua, sehingga harus dikembalikan ke habitatnya.

Dia berharap agar semua elemen, baik tokoh masyarakat, agama, adat, maupun tokoh pemuda, bertanggung jawab menjaga satwa-satwa Papua, sehingga tidak diselundupkan ke luar Papua.

Katanya, mengembalikan satwa ke alamnya memang membutuhkan biaya besar. Termasuk merawat atau merehabilitasinya. Itu pun beberapa satwa yang riskan juga yang mati, karena memang luar biasa susahnya untuk mengembalikan kondisi fisik dan mentalnya.

“Nah makanya kita pertahankan, kalau bisa, jangan sampai ada yang keluar (satwa keluar Papua). Dan semua elemen yang ada di Tanah Papua ini bisa menjaga keanekaragaman hayatinya tetap bertahan, dan seperti tema living harmony,” kata Krisman.

Menurut dia, living harmony dapat diperlihatkan di hutan adat Kampung Rhepang Muaif. Satwa-satwa di sini hidup berdampingan secara harmoni. Oleh sebab itu, dia mengimbau kepada semua elemen masyarakat, baik baik tokoh adat, dan agama, maupun pemuda, untuk bersama-sama menjaga satwa Papua, agar tidak diselundupkan keluar dari Bumi Cenderawasih. (*)

Editor: Dewi Wulandari

Related posts