Papua No. 1 News Portal | Jubi
Jayapura, Jubi – Akibat dilanda cuaca buruk yang menyebabkan petani gagal panen, harga jual lombok di pasar tradisional di Kota Jayapura, Provinsi Papua, naik drastis.
“Sudah dua minggu (harga Lombok) naik karena stoknya kurang. Petani gagal panen karena hujan sehingga menggenangi lahan pertanian,” ujar seorang pedagang komoditas pertanian di Pasar Hamadi, Santi, Sabtu (20/2/2021).
Dikatakan Santi, saat ini harga lombok satu kilogram dijual Rp120 per kilogram dari harga sebelumnya Rp80 ribu. Sebagian besar lombok yang dijual di Pasar Hamadi didatangkan dari Koya di Distrik Muara Tami, Kota Jayapura dan Arso di Kabupaten Keerom, Provinsi Papua.
Santi berharap stok lombok kembali melimpah sehingga harga jualnya tidak terlalu mahal. Selain memberatkan pembeli, penjualan juga terkendala.
“Kalau harga lagi murah, dalam sehari saya bisa habiskan sampai 100 kilogram. Tapi kalau lagi mahal paling hanya bisa 15 sampai 30 kilogram. Itupun yang datang beli sebagian besar rata-rata langganan,” ujar Santi.
Baca juga: Harga sayur di Pasar Hamadi naik akibat banjir
Pedagang komoditas pertanian lainnya, Andi, mengatakan bila musim hujan sangat jarang petani mengantarkan langsung hasil panen lombok ke pasar, terlebih lagi masih di tengah pandemi Covid-19.
“Saya datang langsung ke lahan pertanian, kalau mau harap beli di pasar sudah dibeli sama orang lain, dan saya tidak jualan lombok. Saat ini stoknya lagi kosong, makanya harganya naik,” ujar Andi.
“Saya belum tahu kapan harga lombok bisa kembali normal Rp40 ribu hingga Rp50 ribu per kilogram, sebab sampai saat ini musim hujan masih berlangsung di Kota Jayapura,” imbuhnya
Andi berharap kepada Pemerintah Kota Jayapura untuk memperhatikan ketersediaan komoditas pertanian agar masyarakat tidak membelinya dengan harga mahal dan penjualan dari pedagang juga lancar.
“Kalau busuk, saya buang karena tidak bisa dijual. Kalau sekarang saya kurangi pengambilan karena pandemi. Saya berharap pendemi cepat berakhir supaya aktivitas kembali normal,” ujar Andi. (*)
Editor: Dewi Wulandari
