Sejumlah PSK dan pengelola reaktif Covid-19, dua lokalisasi di Merauke ditutup sementara

Lokalisasi Yobar Merauke Papua
Lokalisasi Yobar yang beralamat di Kelurahan Samkai, tampak sepi. Tak ada aktivitas dilakukan setelah dilakukan penutupan – Jubi/Frans L Kobun

Papua No. 1 News Portal | Jubi

Merauke, Jubi – Bupati Merauke, Provinsi Papua, Frederikus Gebze, mengeluarkan surat untuk penutupan sementara dua lokalisasi di kabupaten yang berbatasan langsung dengan negara tetangga, Papua Nugini, yakni di Yobar dan belakang rumah sakit (Belrusak), lantaran sejumlah pekerja maupun pengelola reaktif Covid-19 setelah melakukan rapid test.

Dalam surat yang diterima Jubi, Kamis (14/1/2021), Bupati Freddy mengatakan dari rapid test yang dilakukan oleh Dinas Kesehatan Kabupaten Merauke, sejumlah pengelola dan pekerja seks komersial (PSK) di dua lokalisasi tersebut hasilnya reaktif. Olehnya, untuk memutus mata rantai  penularan virus korona, dua tempat dimaksud ditutup sementara.

Read More

Jadi, lanjut Bupati Freddy, segara aktivitas untuk menerima tamu, tak boleh dilakukan. Penutupan selama 14 hari ke depan terhitung mulai 9-22 Januari 2021.

Salah seorang pengelola lokalisasi Yobar, Yuli (45), mengaku dengan surat edaran Bupati Merauke, maka aktivitas tidak berjalan, para PSK juga tak menerima tamu lagi.

“Betul, sudah beberapa hari terakhir tak ada aktivitas di barak-barak,” ujarnya.

Baca juga: Pasien Covid-19 meninggal jadi 16 di Merauke

Yuli mengakui sejumlah PSK hasil rapid test-nya reaktif dan kini sedang menjalani karantina mandiri. Hanya saja dampaknya sangat besar bagi pekerja, karena mereka tak mendapatkan penghasilan untuk kebutuhan hidup sehari-hari, termasuk mengirim uang bagi keluarganya di Jawa.

“Kami tak keberatan ditutup, namun perlu ada perhatian dari Pemkab Merauke. Karena sejak ditutup, pekerja yang berjumlah 90-an orang di sini tak mendapatkan uang untuk memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari,” katanya.

Dia juga mengaku perlu dilakukan penyemprotan disinfektan lagi oleh pemerintah. Juga rapid test massal bagi pekerja di dalam, karena belum semuanya melakukan tes. (*)

Editor: Dewi Wulandari

Related posts