Papua No. 1 News Portal | Jubi
Jayapura, Jubi – Agustus merupakan bulan yang diprediksikan oleh Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika Wilayah V Jayapura-Papua sebagai puncak musim kemarau.
Kepala Stasium Klimatologi Jayapura, Dony Christianto, mengatakan meski musim kemarau terjadi, warga tetap meningkatkan kewaspadaan karena berpotensi terjadi hujan dengan intensitas tinggi walaupun berlangsung cepat.
“Hal ini perlu diperhatikan, walaupun hujan lebat berlangsung singkat tapi potensi kejadian bencana cukup besar terutama di daerah resapan air yang kurang baik,” ujar Dony di Kantor Wali Kota Jayapura, Kamis (29/4/2021).
Selain itu, dikatakan Dony, kewaspadaan juga perlu ditingkatkan karena puncak musim kemarau berpotensi terjadinya kebakaran dan kekeringan akibat curah hujan berada pada tingkat paling rendah.
“Awal musim kemarau terjadi pada awal Mei. Kesadaran masyarakat sangat penting dalam mencegah hal-hal yang memicu terjadinya bencana kebakaran,” ujar Dony.
Sementara itu, Koordinator Sub Bidang Pelayanan Jasa Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika Wilayah V Jayapura, Esri Ronsumbre, mengatakan iklim bersifat dinamis atau berubah-ubah.
“Artinya, pergantiannya cepat berubah dari musim hujan ke musim kemarau, begipun juga sebaliknya. Warga tetap harus waspada,” ujar Ronsumbre.
Dikatakan Ronsumbre, sepanjang musim kemarau yang terjadi di ibukota Provinsi Papua tersebut, namun masih terbilang cukup normal.
“Walaupun kemarau mulai terjadi tapi masih ada hujan walaupun tidak sebanyak saat musim hujan. Yang perlu diwaspadai adalah setiap kali hujan turun terjadi hujan lebat, curah hujan yang jatuh antara 100-200 ml per bulan (setiap hujan turun dalam kurun waktu satu bulan),” ujar Ronsumbre.
Baca juga: Potensi siklon tropis Seroja di Papua diprediksi kecil
Wakil Wali Kota Jayapura, Rustan Saru, mengatakan saat puncak musim kemarau terjadi, upaya yang dilakukan Pemerintah Kota (Pemkot) Jayapura dengan melakukan pembersihan sampah dan pengerukan kali.
“Kalau setiap kali hujan turun 100-200 ml berarti 20 cm dalam satu jam (bila aliran sungai terhambat). Ini sangat berpotensi terjadinya banjir. Perlu dilakukan pengerukan dan memperlebar saluran sehingga air tidak menumpuk,” ujar Rustan. (*)
Editor: Dewi Wulandari
