Papua No. 1 News Portal | Jubi
Jayapura, Jubi – Dampak Pandemi Covid-19 mulai dirasakan masyarakat ekonomi menengah ke bawah.
Salah satunya adalah petani. Salah seorang petani sayur, Victor mengaku hasil penjualan sayur turun hingga 50% semenjak pandemi berlangsung.
“Biasanya kalau satu hari banyak orang datang beli tapi selama virus corona ini ada, pembeli sudah berkurang hanya pedagang keliling saja yang datang beli, itu pun mereka kurangi,” ujar Victor, ketika ditemui Jubi saat sedang panen, Selasa (14/4/2020).
Kata Victor, pada Januari lalu, ia mampu meraup omzet hingga Rp2 juta sekali panen di atas tujuh bedeng atau lahan. Namun pada Maret, omzetnya menurun drastis dengan rata-rata penghasilan sekali panen Rp900 ribu hingga Rp1 juta.
“Saya bersyukur masih bisa menutupi uang sewa lahan dan kebutuhan sehari-hari. Satu bedeng saya sewa Rp50 ribu satu bulan. Jadi kalau satu bulan Rp350 ribu. Puji Tuhan masih ada sisa untuk kebutuhan sehari-hari dan uang tabungan,” ujar Victor.
Berkurangnya pembeli, dikatakan Victor, tidak lepas dari imbauan pemerintah agar masyarakat tetap tinggal dan bekerja dari rumah demi mencegah penularan virus corona.
Hal sama diungkapkan petani sayur lainnya, Debora. Ia mengatakan selama virus corona terjadi penurunan penjualan, karena banyak warga yang tidak datang membeli.
“Penjualan sehari-hari saya mengandalkan pedagang keliling dan warga yang kebetulan lewat dan singgah beli. Bila dibandingkan hari biasa (penjualan di kebun) dari 100 ikan menjadi 60 ikat,” ujar Debora.
Supaya bisa meningkatkan penjualan, dikatakan Debora, sayur yang panen dibawa langsung ke pasar.
“Biasanya banyak warga yang lewat, mereka singgah beli sayur tapi sekarang ini sudah kurang. Selama virus corona ini langganan sudah kurangi ambil. Kalau biasanya 50 ikat, sekarang hanya bisa ambil 15 hingga 20 ikat,” ujarnya.
Editor: Edho Sinaga
