Paling berat menghadapi hoaks Covid-19 disebar keluarga sendiri

papua
Tangkapan layar ketika Ellen Kusuma dari SAFEnet menyapaikan materi dalam diskusi daring "Patungan Ide #36" oleh Perkumpulan Warga Muda. -Jubi/Theo Kelen.

Papua No. 1 News Portal | Jubi

Jayapura, Jubi — Ellen Kusuma kini bisa sedikit lega karena mamanya sudah bisa menentukan sendiri sebuah berita itu hoaks atau tidak. Pasalnya, bertahun-tahun mamanya lebih mempercayai berita yang disebarkan melalui media sosial maupun yang dibagikan teman-temannya tanpa terlebih dahulu melakukan verifikasi.

“Menarik sekali perkembangan mama saya sekarang, ia sudah bisa mengidentifikasi berita hoaks. Enam tahun berjuang melawan hoaks yang mama saya sendiri percayai,” kata Kusuma dalam acara zoom meeting Patungan Ide #39 “Cerita Pemuda Papua Lawan Hoaks Covid-19”.

Read More

Kusuma yang menjabat KaSubDiv Digital At-Risks SAFEnet tentu memiliki hak istimewa untuk melakukan pemeriksaan fakta terhadap suatu berita. Akan tetapi dengan kemampuan dan kapasitas yang dimilikinya ternyata tidak mudah meyakinkan keluarganya sendiri, terutama mamanya.

Menurutnya yang paling berat mengahadapi hoaks adalah menghadapi keluarga sendiri yang menyebarkan hoaks tersebut.

“Sering tu mama saya sendiri sebarkan informasi yang tidak benar, entah dapat dari teman-temannya atau grup WhatsApp ema-ema, terus diceritain di rumah, dia ngotot terus gitu kan yah bahwa pernyataan-pernyatan dari temannya lebih benar daripada pernyataan-pernyataan atau fakta yang saya berikan,” katanya.

BACA JUGA: Apa yang dirasakan jurnalis Jubi seminggu setelah divaksin Sinovac?

Namun setelah enam tahun perjuangan Kusuma akhirnya perlahan-lahan bisa meyakinkan mamanya. Walaupun ia harus melaluinya dengan berselisih, tenggang, saling marah, maupun berantem dengan mamanya.

“Oh, berat yah, melawan orang tua cuma untuk bicarakan hoaks dengan mama saya, karena saya melihat ada karakter development dari mama saya, tapi itu penting untuk mengedukasi keluarga kita sendiri walaupun harus berantam-berantam,” katanya.

Kini mamanya sudah bisa mengidentifikasi sebuah berita itu hoaks atau bukan. Kusuma mencontohkan bahwa minggu lalu mamanya menerima video dari temannya. Mamanya terlebih dulu melakukan pengecekan dan akhirnya menyatakan berita itu tidak benar.

“Sekarang kalau dia merima hoaks atau berita tidak benar dia bisa cari tahu sendiri. Minggu lalu mama saya menerima video di mana rekannya bilang itu video orang yang terinfeksi Covid-19 terus sudah meninggal semua dijejar-jejerin kaya satean gitu. Terus mama saya bilang itu hoaks, tidak mungkin terjadi dan itu saya kaget karena nggak nanya sama saya. Biasanya nanya sama saya, ini dia nggak nanya, dia langsung bilang, kemudian dia jelasin kenapa itu hoaks,” ujarnya.

Kusama masih terus mengedukasi dengan membagikan kegiatan-kegiatan positif ke Instragram mamanya, khususnya seputar berita Covid-19 dan vaksin. Idenya adalah mendekatkan orang-orang terdekat seperti keluarga kepada sumber-sumber terpercaya dengan akun Instragram tenaga kesehatan dan dokter seputar berita Covid-19 dan vaskin.

“Untuk sosialisasi hoaks ke mamaku yang terbaru kulakukan adalah karena dia suka di Instragram akhirnya kubuat akunnya follow IG para nakes atau dokter akhirnya sekarang suka nonton video-video dari para nakes atau dokter. Terus empat  hari yang lalu pagi-pagi bangun biasa nonton infotemen, jadi nontonnya konten video IG para dokter itu. Ternyata mendekat mereka kepada sumber langsung menurut saya cara yang cukup efektif setidaknya terbukti pada mama saya. Ini juga bisa kita lakukan kepada orang-orang terdekat kita yang memang gak paham cara memeriksa fakta itu seperti apa, kalau kita kan mungkin mudah sebenarnya kenapa tidak bisa. Tapi mereka kan memiliki tantangan lain seperti literasi digital, mungkin pemahaman yang berbeda dan sebagainya,” katanya.

Kepercayaan terhadap berita hoaks juga dialami Nana Nurwaesari, peserta diskusi. Ia bahkan mempercayai bahwa vaksin Covid-19 membahayakan kandungan.

“Awal 2021 itu kan lagi gencar vakasinasi untuk masyarakat. Jadi ada beberapa teman ajak ayo vaksin, terus akunya nggaklah, nggak percaya karena pernah percaya bahwa vaksin Sinovac ada efek sampingnya,” ujarnya.

Nurwaesari  bekerja di kantor pemerintahan yang mewajibkan pegawai menerima vaksin Covid-19. Ia akhirnya juga ikut menerima vaksin Covid-19.

Tetapi sebelum memutuskan menerima vaksin ia terlebih dahulu mengikuti acara webinar yang menghadirkan ahli epidemiolog tentang vaksin. Dari mengikuti webinar itu akhirnya Nurwaesari mengerti tentang betapa pentingnya vaksinasi Covid-19.

“Di situ pikiran saya terbuka, di sana dijelaskan bahwa tidak 100 persen menyembuhkan kita dari Covid-19, tapi kalau kita nggak vaksin kita bakal beresiko terpapar tiga kali lipat daripada yang sudah divaksin,” katanya.

Setelah ikut webinar akhirnya ia bersedia divaksin.
“Kalau ada kesempatan vaksin aku akan vaksin dan memang rezekinya lebih cepat divaksin,” katanya.

Setelah divaksin tahap 1 dan tahap 2, pada 25 Juni 2021 ibu dan ayahnya terpapar Covid-19. Ia benar-benar merasakan walaupun juga terpapar gejalanya tidak terlalu berat.

“Aku bandingkan dengan ayah dan ibu yang belum divaksin gejalanya sangat parah. Mual dan nggak bisa makan segala. Sedangkan aku cuma merasakan badan sakit, batuk, dan pikek. Itu saja,” ujarnya.

Setelah sembuh dan menjadi penyintas Covid-19, kata Nurwaesari, beberapa temannya yang belum divaksin terpapar Covid-19 bahkan mengalami gejala yang lebih parah.

“Di situlah akhirnya aku mengambil kesimpulan bahwa syukur aku sudah di vaksin. Dan sebagai penyintas kita perlu berbagi kepada orang-orang lain juga. Sharing-sharing supaya yang belum vaksin bisa mau divaksin juga, serta membantu menyebarkan berita-berita fakta biar teman-teman kita sadar mau divaksin,” katanya.

Sementara itu, dr. Echa Sagrim mengatakan masyarakat di Papua sudah banyak yang terpapar berita hoaks seputar virus korona dan vaksin. Bahkan ada yang sampai percaya bahwa akan meninggal atau ditanamkan chip ke dalam tubuh bersamaan dengan penyuntikkan vaksin.

“Jangan ikut vaksin nanti kamu meninggal, isu-isu ini yang sering beredar dan awal-awal ada isu kalau saya terima vaksin nanti ada chip, terus ada isu lainnya lagi itu awal pembuatan e-KTP muncullah isu bahwa kalau kamu direkam itu nanti kamu masuk ke dalam data anti Kristus,” ujarnya.

Menurut Founder AN PAPUAN itu perlu kerja sama antara antara tokoh agama, tokoh adat, dan tokoh masyarakat untuk terus-menerus melakukan sosialisasi kepada masyarakat tentang Covid-19 dan manfaat dari menerima vaksinasi Covid-19.

“Orang sekarang takut dengan vaksinasi, tetapi sebenarnya istilah vaksin sudah ada dari dulu. Kita sudah melakukan vaksin sejak kecil, bahkan masih dalam kandungan, cuma dikenal dengan istilah imunisasi,” katanya.

Ia mengimbau agar kaum muda mengambil peran melakukan edukasi serta sosialisasi kepada masyarakat, terutama mulai dari dalam keluarga. Selain itu perlu peran influencer, karena di era sekarang penggunakan media sosial sangat berkembang. (*)

Editor: Syofiardi

Related posts