Papua No. 1 News Portal | Jubi
Jayapura, Jubi – 13 Januari 2013. Delegasi Foreign Minister Mission (FMM) Melanesian Spearhead Group (MSG) tiba di Bandara Sentani. Rombongan itu buru-buru diboyong menuju kantor Dewan Perwakilan Rakyat Papua (DPRP). Tak ada tarian sambutan, sebagaimana yang direncanakan.
Para aktivis dan massa yang sedari tadi menanti, segera beranjak menyusul rombongan yang dikawal ketat aparat keamanan. Di halaman kantor DPRP, mereka lantas gelar mimbar bebas. Mereka mendesak. Minta ketemu langsung dengan delegasi menteri luar negeri dari negara-negara Melanesia itu.
Adapun kunjungan delegasi FMM-MSG tersebut, sedianya dimandatkan untuk menyoroti isu pelanggaran HAM di Papua. Tapi nyatanya, Pemerintah Indonesia tiba-tiba mengubah topik. Delegasi itu malah diajak fokus membahas masalah ekonomi dan pembangunan semata.
Terang saja, aparat membubarkan paksa aksi mimbar bebas itu. Kamera Ester Haluk dirampas. File foto-fotonya dihapus. Surat pernyataan di tas Noken Mama Yosepa Alomang – yang hendak diserahkan kepada FMM MSG- juga turut dirampas aparat.
Markus Haluk yang tengah berorasi diseret paksa masuk mobil polisi. Mama Yosepa dan Mama Abina Wasanggai coba melerai. Tangan mama Yosepa sempat dipelintir. Mama Abina Wasanggai turut ditangkap. Demikian sekilas kronologi penangkapan aktivis Papua pada peristiwa itu, sebagaimana dikutip dari laman tanahku.west-papua.nl
Ya, Mama Abina Wasanggai adalah satu dari sedikit perempuan di Papua yang lantang melawan.
Tokoh yang lahir di Mamda, 28 November 1956 itu, telah mendedikasikan diri pada persoalan kemanusiaan di Papua. Tak ada kata lelah baginya, terlebih saat menyuarakan perempuan Papua.
“Beliau sangat terkenal di wilayah Tabi dan Kemtuik juga Lembah Grime. Mereka punya satu organisasi perempuan Solidaritas Perempuan Tabi. Fokus pada hak-hak perempuan Tabi. Mama Abina juga bergerilya mencari perempuan Papua untuk diajak bergabung, mendorong terbentuknya Dewan Adat Papua.” ujar Fientje Jarangga, kerabat dekat Mama Abina Wasanggai.
Mama Abina dan rekan seperjuangnya, Mama Beatriks Koibur akhirnya berhasil mengorganisir perempuan Tabi, Merauke, Serui, Biak, Wondama, hingga Sorong, membentuk Dewan Adat Papua sekitar 2002 silam.
Mereka lantas mendirikan Solidaritas Perempuan Papua. Organisasi ini kemudian melebarkan sayapnya ke tujuh wilayah adat di tanah Papua. Kedua tokoh perempuan itu percaya, persoalan perempuan Papua itu tidak bisa dikerjakan oleh satu dua orang. Perempuan di seluruh wilayah adat harus bersatu.
“Solidaritas Perempuan Papua (kerap) dilihat sebagai organisasi politik. Padahal isinya murni membicarakan hak – hak dan masa depan perempuan Papua,” katanya.
Sekretaris Pokja Perempuan Majelis Rakyat Papua, Orpa Anari mengenang Mama Abina Wasanggai sebagai pendidik yang mengajarkan banyak hal. Sebagai seorang guru, ruang kelasnya seolah tanpa sekat. Dia dikenal gigih menyuarakan Hak Asasi Manusia Papua baik di level Papua, nasional dan internasional.
Yulianus Dwaa, mewakili pihak keluarga, mengenang Mama Abina Wasanggai sebagai sosok yang senantiasa menanamkan nilai kejujuran.
“Jujur menyampaikan hal yang benar dan yang salah. Beliau adalah mama yang tegas dan berani,” kata Yulianus kepada Hengky Yeimo dari Jubi, Rabu (17/10/2018) di rumah Mama Abina, Padang Bulan, Kelurahan Hedam, Distrik Abepura, Jayapura.
Di rumahnya, sehari-hari Mama Abina nyaris selalu tenggelam membaca buku. Kalau tidak menuliskan laporan-laporan. Profesinya sebagai guru, sudah jadi satu nyawa dengan aktivitasnya sebagai pembela HAM dan perempuan .
Mama Abina Wasanggai menghembuskan nafas terakhirnya di Rumah Sakit Umum Daerah Abepura pada Selasa lalu, 16 Oktober 2018, pukul pukul 19.00 Waktu Papua. Mama tutup usia pada 61 tahun, 44 hari.
Almarhumah diketahui sakit sejak April 2018 lalu dan telah dirawat rutin. Pada September 2018 mama Abina menjalani operasi kelenjar di RS Dian Harapan Jayapura dengan baik. Selanjutnya pada 11 Oktober 2018, almarhumah dirawat inap di RS. Abepura dengan diagnosa gagal ginjal. Hingga akhirnya tutup usia.
Jelang akhir hidupnya, Mama Abina bahkan masih sempat mendirikan koperasi khusus perempuan Papua. Koperasi ini akan dilanjutkan oleh teman- teman seperjuangannya di tujuh wilayah adat .
Kala itu dia berkata, pendirian koperasi itu sebagai bentuk proteksi terhadap perempuan Papua. Dia tak ingin perempuan Papua kembali ke titik nol, terlebih setelah otonomi khusus dicabut dari Tanah Papua.
“Apa yang ditinggalkan berupa ide pikiran khusus untuk perempuan harus dilanjutkan. Kami sangat kehilangan mama yang merangkul perempuan Papua ,” ujar Orpa Anari.
Jenazah Mama Abina dimakamkan pada Kamis ( 18/10/2018) pukul 13.00 Waktu Papua di Kampung Harapan Sentani. Dia tidur selamanya di tanah yang gigih dibelanya.
Terimakasih Mama Abina. perjuangan dan kegigihanmu telah membangunkan kami.(*)
Daftar riwayat hidup almarhumah
Nama : Abina Wasanggai,S.Pd
Tempat tanggal lahir, : Mamda, 28 November 1956
Umur : 61 tahun 44 hari
Nama Ayah : Yulius Wasanggai (Alm)
Nama Ibu : Barbalina samon (Almh)
Abina Wasanggai adalah anak ke tiga dari lima bersaudara.
2. Riwayat pernikahan
Almarhumah menikah di Jayapura pada tahun 1976 dengan Kopral dua Polisi Sokrates Yaku (Almarhum) . Dikaruniai enam anak. enam orang cucu oleh ;
Benyamin Yaku
Novita yaku
Fransiska yaku
Daniel Yaku
Chiristin Yaku
Victor Yaku
3. Riwayat Pendidikan
SD YPK Mamda Tahun 1964-1970
SMP YPK Kota Raja Tahun 1970-1973
SPG TTC Negeri Jayapura Tahun 1974-1976
D-3 Universitas Terbuka Tahun 1998-1999
Strata 1 FISIP Uncen Tahun 2000
Prajabatan pemda TK II Jayawijaya di Wamena Tahun 1984
Riwayat Pelatihan Lainnya
Human Rigth Training Komnas HAM RI di Ciawi Tahun 2015
Pro Justitia Komnas HAM RI di Bogor Tahun 2004
HAK Pengungsi (IPDS) Komnas HAM RI di Ambon Tahun 2005
Hak Warga Negara atas Pekerjaan di BOGOR Tahun 2005
Peningkatan Kemampuan Profesional guru di Jayapura tahun 1992
Latihan kerja Guru dari Kanwil Depdikbud Pro Irian Jaya Seabayak empat kali
Latihan Kerja Guru Pemandu Mata pelajaran Bahasa Indonesia dari Kanwil DEPDIKBUD Prov. Irian Jaya di Jayapura Tahun 1996.
4. Riwayat Pekerjaan
Guru TK Kemala Bahyangkara Wamena
Guru SD Negeri Siepkosy Wamena Tahun 1982-1988
Guru SD YPK Mamda Kabupaten Jayapura Tahun 1989-2006
Guru SMP YPK Marthen Luter Sentani Tahun 2007-2010
Kepala sekolah SD YPK Mamda Tahun 2010-2016
Komisioner Perwakilan Komnas HAM Papua tahun 2005-2008
5. Riwayat Oragnisasi kemasyaraktan dan Pemrintahan
Ketua PKK Kampung Mamda
Ketua Pos Yandu Kampung Mamda
Pengurus Aliansi Perempuan Papua daerah Mamta
Sekretaris Umum Solidaritas Perempuan Papua Almarhumah juga salah satu pendiri Oraganisasi ini.
Anggota Tim 100 Pembentukan Otonomi Khusus Papua dari Pilar Perempuan
Ketua Umum Solidaritas Perempuan Papua (SPP) Diatas Tanah Papua Periode 2017-2021
Peengurus Dewan Adat Mamberamo Tami
Anggota Penasehat Pak-HAM Papua
Pengurus PGRI kabupaten Jayapura
Pengurus DAS Grime-Nawa
Tim Formatur Kelompok Kerja Perempuan Majelis Rakyat Papua dari Pilar Perempuan Papua.
Pendiri Oragnisasi Angganeta Foundation
Narasumber Buku kehidupan Mama-mama Papua
Tim Terpadu Pelanggaran HAM Papua dan Papua Barat
Fasilitator Rekonsiliasi Forum Nasional Kepedulian HAM Kantor Wilayah BKKBN PrOrovinsi Irian Jaya.
Anggota Pleno Perwakilan Perempuan Dewan Adat Papua
Tim Formatur Pembentukan Kabupaten Grime- Nawa tahun 2004
Pendiri dan pengurus Koperasi Beatriks Papua Tahun 2018
Narasumber dalam berbagai diskusi tentantag perempuan dan anak serta HAM di Tanah Papua
