Novel Lembayung Senja, Cerita kehidupan asrama mahasiswa Papua

Papua No. 1 News Portal | Jubi,

SATU lagi novelis lahir di tanah Papua. Kali ini Alfrida V.P. Yamanop melahirkan karya perdananya ‘Lembayung Senja’ untuk menjadi salah satu bacaan juga referensi bagi mereka yang ingin tahu soal Papua.

“Novel ini saya buat karena pada waktu di Jakarta, banyak yang bertanya Papua itu konflik terus kah? Tidak berpakaian? Perang terus ka? Karena banyak yang bertanya. Akhirnya saya menulis novel ini agar mereka tahu Papua itu bukan hanya perang tetapi indah,” kata Alfrida usai meluncurkan novelnya di Aula Fakultas Ekonomi Universitas (Uncen), Waena, Rabu (24/1/2018).

Alfrida mengaku novel lembayung senja ditulis cukup lama, yakni tiga tahun (2005-2008). Awalnya tulisan-tulisan pada lembaran-lembaran kertas, kini sudah dapat dinikmati oleh pecinta novel-novel berlatar Papua.

Alfrida yang juga dosen Fakultas Ekonomi Uncen berharap novel yang terinspirasi roman berjudul “Astiti Rahayu” (1976) karya Iskasiah Sumarto itu dapat mendorong anak-anak muda untuk selalu membaca.

“Saya merasa senang karena ini cita-cita sejak saat bangku SMP itu, hari ini bisa di launching,” katanya.

Dosen Fakultas Pendidikan dan Sastra, Dr.Aleda Mawene menjelaskan di Papua ada 18 novelis. Dari 18 itu, delapan orang Papua Asli, dua diantaranya perempuan.

“Buku ini banyak menceritakan kehidupan dua perempuan yang tinggal di asrama. Banyak yang terjadi di asrama universitas ini. Itu semua yang kita dapatkan dari novel ini” kata DR. Aleda Mawene.

Aleda merekomendasikan novel setebalnya 188 halaman itu untuk dibaca pelajar SMA dan mahasiswa, karena dalam buku itu banyak menceritakan cara manfaatkan waktu di kampus dan berorganisasi di kampus.

“Buku ini banyak menceritakan gambaran umum yang mengenai Papua, khususnya kehidupan di asrama putri Uncen Waena. Juga kisah cinta klasik yang di alami oleh anak-anak muda Indonesia umumnya dan khususnya di Papua,” katanya.

Rektor Universitas Kaki Abu, Iriandi Tagihuma atau yang dikenal dengan Andi Tagihuma menambahkan novel yang ditulis oleh Alfirida ini sebuah realita kehidupan yang terjadi di asrama Uncen putra maupun putri.

“Novel menceritakan bagaimana cara anak-anak mahasiswa memilih, menjadi mahasiswa yang hanya ikut kuliah atau aktif berorganisasi. Pelajar dan mahasiswa dapat belajar dari novel ini,” katanya saat ditemui usai acara.

Peluncuran buku sekaligus diskusi bertajuk ‘Memaknai Perkembangan literasi di Tanah Papua.’ dibuka Pembantu Dekan III Fakultas Ekonomi Uncen, Balthazar Kreauta.

Balthazar bangga dengan terbitnya novel ini. “Ini pertama kali, dosen Fakultas Ekonomi yang bisa menulis novel. Makanya peluncuran dilaksanakan di sini “ katanya.

Menurutnya peluncuran buku seperti ini sangat baik diadakan di kampus, karena membuat mahasiswa tertarik untuk menulis, selain menulis di media sosial

“Karena novel itu adalah sebuah cerita dituangkan dalam buku untuk di baca oleh orang banyak,” jelasnya.(*)

Related posts