TERVERIFIKASI FAKTUAL OLEH DEWAN PERS NO: 285/Terverifikasi/K/V/2018

Muyapa sukses bertani  di permukiman transmigrasi

Papua
Wellem Muyapa menunjukkan hasil panen jagungnya, pekan lalu - Jubi/Titus Ruban

Papua No.1 News Portal | Jubi

Kerugian terkadang juga akibat harga anjlok. Beruntung, bapak empat anak ini memelihara bebek dan babi sehingga jagung bisa dimanfaatkan untuk pakan ternak.

WELLEM Muyapa ialah seorang petani dari kalangan Orang Papua Asli atau OAP di Kampung Wanggar Sari, Distrik Wanggar, Nabire. Selain membudidayakan jagung, padi, dan sayur, dia beternak sapi, babi, serta bebek.

Meskipun menetap di lokasi permukiman transmigrasi, Muyapa bukan transmigran. Dia membeli tanah seluas hampir 6 hektare dari beberapa transmigran setempat sekitar 20 tahun silam.

“Sudah 20 tahun saya menjadi petani. Saya membeli tanah di sini setelah tamat SMA,” katanya kepada Jubi, pekan lalu.

Muyapa memilih menjadi petani lantaran orang tua tidak mampu menguliahkannya setamat dari SMA. Modal bertaninya dari hasil kerja serabutan semasa sekolah.

“Saya beli rumah dan lahannya dari teman-teman (transmigran). Uangnya saya kumpul sedikit demi sedikit dari hasil keringat sendiri,” ujarnya.

Petani asal Paniai tersebut memanfaatkan sekitar 4 hektare lahannya dengan bertanam jagung, sedangkan selebihnya saat ini ditanami sayur dan rumput untuk ternak. Jagung ditanam sebanyak tiga kali setahun. Hasilnya rata-rata 7 ton setiap hektare dalam sekali panen.

“Hasil bercocok tanam dan beternak sering pasang-surut. Saya kadang merugi karena gagal panen akibat benih tidak bagus dan banjir,” kata Muyapa, seusai memanen jagung.

Kerugian terkadang juga akibat harga jagung anjlok di pasaran. Beruntung, bapak empat anak ini memelihara bebek dan babi sehingga jagung bisa dimanfaatkan untuk pakan ternaknya.

“Ketika sedang berlimpah (di pasaran lokal), harga jagung hanya Rp3.000 sekilogram. Adapun harga tertingginya Rp6.000. Saya senang saat harga jagung naik,” tuturnya.

Petani mandiri

Muyapa tidak pernah patah semangat meskipun menghadapi banyak tantangan selama menjadi petani. Dia tetap tekun dan bersemangat dalam mengelola lahan pertanian dan peternakan. Lelaki Suku Mee dan berusia 55 tahun tersebut bahkan memperluas lahan garapannya.

“Bulan lalu saya memeroleh Rp65 juta dari hasil menjual babi. Uangnya untuk membeli lahan dan sepeda motor, membiayai anak sekolah, serta ditabung,” ungkapnya.

Bapak empat anak ini mengaku jarang mendapat bantuan, kecuali benih jagung dan peralatan pertanian dari pemerintah. Dia padahal juga membutuhkan pupuk tanaman yang harganya selangit.

“Harga pupuk subsidi Rp150 ribu sekarung (50 kilogram), dan nonsubsidi Rp200 ribu-Rp650 ribu sekarung. Kalau bisa, bantuan benih juga disertai pupuk agar kami tidak merugi,” kata warga Jalan Paniai tersebut.

Namun, Muyapa tidak ingin bergantung sepenuhnya kepada pemerintah. Dia yakin mampu menghidupi usahanya secara mandiri. Itu sudah dibuktikan selama 20 tahun menjadi petani.

“Benih jagung bantuan pemerintah juga jelek (kualitasnya) sehingga saya juga merugi. Jadi, setop berharap dengan bantuan pemerintah. Tanah di Papua masih luas, tinggal bagaimana kita berusaha. Mau tetap menjadi miskin atau ubah nasib sekarang juga,” jelas Muyapa.

Kegigihan Muyapa dalam berusaha secara mandiri mendatangkan kekaguman dari warga setempat. Azhari, salah satunya.

“Dia seorang pekerja keras dan berpikiran modern (maju) dalam berusaha. Saya salut dengannya,” ujar tetangga Muyapa tersebut. (*)

Editor: Aries Munandar

(Visited 90 times, 1 visits today)

Baca Juga

Berita dari Pasifik

Loading...
;

Sign up for our Newsletter

Dapatkan update berita terbaru dari Tabloid Jubi.

Trending

Terkini

JUBI TV

Rekomendasi

Follow Us