Papua No. 1 News Portal | Jubi
Merauke, Jubi – Duel Moria Monalu (Papua) dan Nunung (Kalimantan Timur) yang turun di kelas 60 kg dalam babak penyisihan cabang olahraga wushu tarung bebas (sanda) Pekan Olahraga Nasional (PON) XX di GOR Hiad Sai Merauke, Kamis (30/9/2021) menyita perhatian ratusan orang.
Teriakan dan tepuk tangan menggema dalam aula GOR oleh penonton pendukung Moria sejak ronde pertama dimulai. Dengan dukungan yang begitu besar, hingga membuatnya terus bersemangat melancarkan berbagai jurus pukulan, tendangan, hingga bantingan terhadap lawan.
Aksi bertanding yang dipertontonkannya, sangat maksimal. Beberapa kali lawan berusaha menjatuhkan dengan cara membanting, namun usaha dimaksud sia-sia. Sejak ronde pertama hingga kedua, Moria memenangkan pertarungan tersebut.
Saat ditemui Jubi, Kamis (30/9/2021), Moria Monalu yang hari ini berulang tahun ke-34, menyampaikan ucapan terima kasih sekaligus syukur kepada Tuhan atas kemenangan yang diperolehnya. Juga tak lupa dukungan atau antusiame ratusan masyarakat Merauke yang begitu besar saat dirinya bertanding.
“Kemenangan yang saya raih ini sebagai jalan untuk menuju ke babak semifinal nanti. Olehnya, mohon dukungan dari masyarakat Papua agar saya bisa bertarung lebih baik lagi,” pintanya.
Perempuan kelahiran Tapanuli, 30 September 34 tahun silam itu mengaku sudah yang tiga kali mengikuti hajatan PON dan bertarung di wushu tarung bebas. Selama tiga kali bertarung, ia selalu mendapatkan emas.
“Jadi ini kali keempat saya mengikuti PON. Saya akan tetap patuh dengan arahan dan petunjuk pelatih kepala saat akan bertarung di atas matras. Memang semua itu boleh kita rencanaka untuk meraih emas, namun semua itu kembali kepada kuasa serta kehendak Tuhan,” ujarnya.
Baca juga: Wushu sanda Papua sisakan 5 atlet, 4 lainnya gugur
Moria yang telah memiliki satu anak berusia delapan bulan itu, bergabung dengan kontingen Papua XX sejak tahun 2019 silam.
“Kenapa saya memilih bergabung di kontingen Papua, itu semua adalah jalan Tuhan,” ungkapnya.
Diapun mengaku sejak kecil telah mencintai olahraga wushu, karena penampilannya juga agak tomboy.
“Betul, saya tomboy sejak kecil dan mencintai olahraga ini. Lalu secara serius mulai latihan secara rutin sejak 2006 silam,” tuturnya. (*)
Editor: Dewi Wulandari
